Saya mendasarkan skema ini pada:
“Tidak boleh bagi tiga orang berada di mana-pun di bumi ini, kecuali memilih salah seorang di antara mereka itu sebagai pemimpin/amir.” (Musnad Imam Ahmad, jilid II, hal.177)
Dan sejarah pemilihan khalifah Utsman RA:
Ketika Khalifah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu’luah, dan Khalifah masih sempat bertahan dari sakit tikaman Abu Lu’luah, lalu membicarakan pengganti Khalifah dengan para ulil amri itu dan mengajukan calon pengganti khalifah kepada Abdur Rahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zuber bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah. Dan kepada mereka menyerahkan keputusan pemilihan dan pengangkatan Khalifah pengganti dirinya.

Dengan asumsi bahwa pada masa kini, pemilihan 6 orang (atau berapa pun jumlahnya) yang dianggap mewakili masyarakat, kemudian menyerahkan urusan pemilihan kekhalifahan kepada mereka, adalah hal yang sulit (karena banyaknya komponen masyarakat sekarang), maka saya berfikir mungkin kalau kita pilih 6 orang (atau berapa pun jumlahnya) pada tingkatan kepemimpinan terbawah, kemudian menyerahkan pemilihan pemimpin pada tingkat selanjutnya kepada mereka, mungkin cara ini akan lebih mudah dilaksanakan pada realita sekarang…

Baiklah, sekarang penjelasannya:
Proses pemilihan yang saya usulkan adalah sebagai berikut:
Input : Masyarakat
Output : Khalifah/Presiden
Proses :
– Pada tingkatan kepemimpinan terendah (setingkat RT), masyarakat dipersilahkan memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin mereka.
– Setelah pemimpin pada tingkat RT terpilih, para pemimpin (dalam satu wilayah RW) tersebut berkumpul untuk memilih satu pemimpin pada tingkat selanjutnya (setingkat RW).
– Begitu selanjutnya, sampai pada tahap terpilihnya pemimpin pada tingkat gubernur, dimana para pemimpin terpilih akan berembuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah/presiden.
Constraint/batasan:
– Pada setiap tingkatan proses pemilihan, waktu yang disediakan adalah satu minggu (merujuk pada waktu yang disediakan kepada para perwakilan masyarakat untuk memilih Utsman)
– Apabila dalam waktu satu minggu tidak berhasil diperoleh kesepakatan, maka anggota pemilihan akan mendapat denda dan pemilihan pada tingkat mereka di-reset (pada masa Umar – > Utsman, hukumannya adalah dibunuh…)
Justifikasi/alasan pembenaran:
– Dengan cara ini, diharapkan masyarakat akan memilih orang yang paling ahli di antara mereka (pada tingkatan RT), dan pada setiap kenaikan tingkatan kepemimpinan, diharapkan output dari proses tersebut adalah orang yang paling ahli pada setiap lapisan kepemimpinan.
– Waktu keseluruhan proses kira-kira (dari Masyarakat -> Khalifah) adalah 7 minggu (dengan spare waktu kemungkinan ada level yang di-reset, 3 minggu). Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan masa kampanye yang disediakan pada proses pilkada, misalnya (2 bulan).
– Biaya pemilihan diharapkan menjadi lebih murah. Pernyataan ini bisa dilihat dari: pada masa memilih pemimpin (setingkat RT) oleh masyarakat, mungkin masyarakat hanya perlu diberi insentif setingkat kopi dan gorengan😛 untuk menarik minat masyarakat dalam berpartisipasi. Sementara pada setiap tingkatan kepemimpinan, insentif yang diberikan mungkin bisa lebih besar (misalnya, pada tahapan para gubernur memilih presiden di antara mereka, mungkin perlu dijalankan di hotel berbintang (pendapat saya pribadi: gak perlu!)) namun biaya ini bisa lebih murah karena jumlah pemilih semakin mengerucut.
– Sistem ini tidak terlalu ‘asing’ bagi system politik yang dikenal di dunia. Karena system ini mirip dengan ‘representative democracy’ (demokrasi perwakilan). Sehingga kemungkinan tentangan dari otoritas dunia (sebutlah PBB (US)) bisa diminimalisir.

saya memasukkan beberapa komponen baru pada flow ini:

Keterangan:

Decision 1: Pilihan untuk memilih atau tidak memilih (golput)

Decision 2: Skenario hasil pemilihan. Apakah si A yang menang atau si B yang menang

Decision 3: Pengaruh jabatan terhadap si A. Apakah si A terpengaruh oleh system sehingga justru menjadi corrupt atau tidak.

Decision 4: Sebaliknya, pengaruh si A terhadap system. Apakah si A berhasil mempengaruhi system menjadi lebih baik, atau system tetap tidak terpengaruh walaupun si A sudah terpilih.

Decision 5: Seandainya si B (yang lebih buruk ketimbang si A) yang terpilih. Apakah si B berhasil mempengaruhi system (sehingga lebih buruk) atau system tidak terpengaruh walaupun si B terpilih

Decision 6: Sikap yang diambil oleh seseorang setelah ia golput. Apakah dia diam saja atau mempromosikan alternative/ide system yang lebih baik

Decision 7: Hasil dari promosi orang yang golput terhadap idenya. Apakah berhasil atau tidak

Decision 8: seandainya promosi orang yang golput berhasil, apakah hasilnya system yang lebih baik ketimbang system sebelumnya (yang menggunakan pemilihan) atau tidak.

Decision 9: Pengaruh tindakan golput seandainya promosinya tidak berhasil terhadap system sebelumnya. Apakah tindakan golput tersebut (beserta promosinya) akan mempengaruhi system yang sedang berjalan sekarang atau tidak.

Decision 10: Pengaruh tindakan golput terhadap system yang berjalan sekarang. Apakah membawa kebaikan terhadap system sekarang, atau tidak.

Decision 11 & 12: Dukungan partai terhadap si A yang terpengaruh keburukan system. Apakah partai yang diwakili si A memang kondusif untuk orang-orang yang ‘terpengaruh’ seperti itu atau tidak?

Decision 13: Kepatuhan si A yang terbawa arus, terhadap ‘larangan’ partainya. Apakah si A patuh atau tidak (jadi diam-diam)?

Decision 14: Kepatuhan si A yang melawan arus, terhadap ‘godaan’ partainya. Apakah si A patuh atau tidak.

Decision 15: Fungsi control yang dilakukan pihak luar. Apakah penyimpangan si A atau si B terkena fungsi control atau tidak.

Decision 16: Sebenarnya, decision ini seharusnya sudah ada di no 1. Tapi, biar menarik, mari kita lihat seandainya kondisi ideal masing-masing kubu tercapai, pada akhirnya, tetap saja nilai ‘baik’ atau ‘buruk’ berada di ‘mata’ Allah. Ingat, apa yang baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang buruk menurut manusia, belum tentu buruk menurut Allah

Nah, setiap decision di atas, akan menghasilkan Final State berikut:

—-Final State untuk orang yang memilih—-

FS2: Ini diganti oleh Decision 11. Di sini, saya memasukkan factor dukungan partai terhadap perilaku si A.

FS3: ini juga diganti oleh Decision 12. Sebenarnya decision 11 dan 12 hampir sama, yang berbeda adalah kondisi si A dan dukungan yang ia peroleh dari partainya.

FS4: Menarik disini, saya memasukkan decision 16. Yaitu, apakah seandainya kondisi ideal yang dicapai oleh kedua kubu, masuk/diterima oleh hokum Islam atau tidak. Karena, mungkin saja salah satu kondisi ideal yang dimiliki oleh kubu voter dan non-voter, ternyata tidak sesuai dengan hokum Islam. Tapi, tentu saja ini akan butuh pembahasan yang sangat panjang… jadi please, di sini, saya hanya mengajukan kemungkinan bahwa kedua kondisi ideal tersebut tetap harus dipandang melalui kacamata Dien, bukan semata ‘kepuasan’ salah satu pihak saja…

FS5: [Was: Kondisi ini adalah kondisi terburuk. Pada kondisi ini, si B yang lebih buruk, terpilih, dan kemudian berhasil mengubah system menjadi lebih buruk. Pada kondisi ini, tentu saja orang yang tidak memilih bisa dianggap melakukan kemungkaran karena tidak mencegah hal ini terjadi. (ingat, kita tidak membicarakan respon masyarakat disini)]

[Updated] Kondisi ini adalah kondisi terburuk. Pada kondisi ini, si B yang lebih buruk, terpilih, dan kemudian berhasil mengubah system menjadi lebih buruk. Pada kondisi ini, tentu saja orang yang tidak memilih bisa dianggap melakukan kemungkaran karena tidak mencegah hal ini terjadi. Saya tidak memasukkan ini ke decision 15 karena saya membayangkan bahwa pada kondisi ini, bahkan decision 15 pun bisa diubah atau dipengaruhi oleh si B… Cilaka bukan?

FS6: Kondisi ini terjadi bila si B terpilih, tapi system tetap tidak terpengaruh (tidak menjadi lebih buruk, apalagi lebih baik… Melettttt). Pada kondisi ini, yah, mungkin orang yang memilih atau tidak memilih sama saja…

[updated] Hanya saja, kondisi ini saya ganti menjadi decision 15. Karena si B tidak berhasil mempengaruhi system (namun tetap ‘nakal’) maka fungsi pengawasan dan control akan menguji ‘nasib’ si B. apakah si B tertangkap atau tidak.

—-Final State untuk orang yang tidak memilih (golput)—-

FS7: Kondisi ini terjadi ketika orang yang golput tapi tidak melakukan apa-apa juga… yah, gak ada gunanya… system tidak berubah, dan golputnya juga tidak terjelaskan alasannya. Biasanya kondisi ini terjadi untuk orang yang golput dengan alasan apatis atau gak sengaja (tidak terdaftar, misalnya).

FS8: Kondisi ini terjadi ketika orang yang golput, kemudian mempromosikan alasan dan alternative yang ia pikirkan, namun promosinya tidak berhasil dan system secara keseluruhan tidak terpengaruh. Pada kondisi ini, mungkin saja tidak ada keuntungan yang diperoleh dan dihasilkan oleh tindakan golput barusan.

FS9: Nah, kondisi ini agak lucu juga. Ketika promosi yang disampaikan oleh orang yang golput berhasil, dan system yang diinginkan orang yang golput terbentuk, tapi ternyata system tersebut, malah lebih buruk dari system sebelumnya… Pada kondisi, orang yang golput bisa dibilang melakukan kemungkaran karena merubah system menjadi sesuatu yang lebih buruk. Ini adalah worst case bagi golput.

FS10: Kondisi ini adalah kondisi paling ideal bagi si pemilih maupun si golput (setara dengan FS4). Karena pada kondisi ini, ide perubahan yang diusung oleh orang yang golput ternyata berhasil dan mengubah system menjadi lebih baik.

[updated] Lihat penjelasan FS4.

FS11: Kondisi ini terjadi kalau promosi orang golput tidak berhasil dan bahkan memperburuk system yang telah ada karena promosi yang ia lakukan. Pada kondisi ini, sangat mungkin orang yang golput telah melakukan kemungkaran karena memperburuk system.

FS12: Kondisi ini terjadi kalau promosi orang yang golput tidak berhasil, tapi promosi itu berhasil menyumbangkan ide sehingga membuat system yang ada menjadi lebih baik. Pada kondisi ini, tentu tidak bisa dibilang bahwa orang yang golput telah melakukan kemungkaran bahkan mungkin ia bisa menjadi semacam ‘penyeimbang’ system yang berjalan, dan member masukan-masukan berharga terhadap system tersebut.

Tambahan versi II:

FS13: Ini adalah kondisi dimana si A menang, lalu terpengaruh system yang corrupt, dan mendapat dukungan dari partainya atau partainya memang kondusif untuk orang-orang seperti ini. Pada kondisi ini, justru voter yang berpartisipasi membuat kemungkaran.

FS14: ini adalah kondisi dimana si A atau si B yang ‘nakal’, lalu terkena fungsi control. Pada kondisi ini, voter bisa mendapat ‘malu’ karena telah memilih si A. tapi paling tidak, kerugian yang dilakukan si A bisa diminimalisir.

FS15: Worst Case! Ini adalah kondisi dimana si A terpilih, tidak didukung oleh partainya, tapi tetap diam-diam melakukan keburukan, dan berhasil lolos fungsi control. Cilaka!

FS16 & FS17: lihat penjelasan decision 16.

wallahu’alam,

wassalam,

Haekal

Saya tertarik untuk membuat sebuah ‘simulasi’ kemungkinan hasil dari pilihan kita ketika pemilu (atau pilkada, atau apapun namanya). Hal ini mungkin bisa membantu dalam menjawab pertanyaan:”Mana yang lebih baik, memilih atau golput?”

Pertama-tama, mari kita lihat ‘flow’ kemungkinan berikut:

Keterangan:

Decision 1: Pilihan untuk memilih atau tidak memilih (golput)

Decision 2: Skenario hasil pemilihan. Apakah si A yang menang atau si B yang menang

Decision 3: Pengaruh jabatan terhadap si A. Apakah si A terpengaruh oleh system sehingga justru menjadi corrupt atau tidak.

Decision 4: Sebaliknya, pengaruh si A terhadap system. Apakah si A berhasil mempengaruhi system menjadi lebih baik, atau system tetap tidak terpengaruh walaupun si A sudah terpilih.

Decision 5: Seandainya si B (yang lebih buruk ketimbang si A) yang terpilih. Apakah si B berhasil mempengaruhi system (sehingga lebih buruk) atau system tidak terpengaruh walaupun si B terpilih

Decision 6: Sikap yang diambil oleh seseorang setelah ia golput. Apakah dia diam saja atau mempromosikan alternative/ide system yang lebih baik

Decision 7: Hasil dari promosi orang yang golput terhadap idenya. Apakah berhasil atau tidak

Decision 8: seandainya promosi orang yang golput berhasil, apakah hasilnya system yang lebih baik ketimbang system sebelumnya (yang menggunakan pemilihan) atau tidak.

Decision 9: Pengaruh tindakan golput seandainya promosinya tidak berhasil terhadap system sebelumnya. Apakah tindakan golput tersebut (beserta promosinya) akan mempengaruhi system yang sedang berjalan sekarang atau tidak.

Decision 10: Pengaruh tindakan golput terhadap system yang berjalan sekarang. Apakah membawa kebaikan terhadap system sekarang, atau tidak.

Nah, setiap decision di atas, akan menghasilkan Final State berikut:

—-Final State untuk orang yang memilih—-

FS2: Sebenarnya kita mulai dari Final State (FS) 2 karena FS1 tidak sengaja terhapus oleh saya😛, dan baru disadari setelah mulai menulis penjelasan ini…. Kondisi pada FS2, sebenarnya kondisi yang sangat buruk. Karena pada kondisi ini, orang yang baik (A) terpilih dan menjadi anggota system, tapi sayangnya karena sistemnya sedemikian corrupt-nya, malah orang baik tersebut yang berubah (menyesuaikan diri?) mengikuti system. Pada kondisi ini, bisa dibilang, orang yang memilih si A justru berbuat kemungkaran karena menjerumuskan si A ke keburukan.

FS3: Pada FS3, kondisi yang tercapai adalah, si A tidak terpengaruh oleh keburukan system (misalnya, walaupun orang-orang pada korupsi, si A tetap bertahan tidak ikut-ikutan), tapi si A juga tidak menghasilkan perubahan terhadap system yang buruk tersebut. Dalam hal ini, si pemilih juga bisa dibilang ikut melakukan kemungkaran, karena ia mendukung system yang menguras sumber daya yang sangat besar, dan yang akan lebih baik disalurkan ke yang lain, hanya untuk hasil yang ‘sia-sia’.

FS4: Kondisi inilah yang sebenarnya merupakan kondisi yang ideal. Kita memilih si A, si A lebih baik ketimbang si B, kemudian si A berhasil mengubah system menjadi lebih baik. Bravo!

FS5: Kondisi ini adalah kondisi terburuk. Pada kondisi ini, si B yang lebih buruk, terpilih, dan kemudian berhasil mengubah system menjadi lebih buruk. Pada kondisi ini, tentu saja orang yang tidak memilih bisa dianggap melakukan kemungkaran karena tidak mencegah hal ini terjadi. (ingat, kita tidak membicarakan respon masyarakat disini)

FS6: Kondisi ini terjadi bila si B terpilih, tapi system tetap tidak terpengaruh (tidak menjadi lebih buruk, apalagi lebih baik…:P ). Pada kondisi ini, yah, mungkin orang yang memilih atau tidak memilih sama saja… lose-lose solution…

—-Final State untuk orang yang tidak memilih (golput)—-

FS7: Kondisi ini terjadi ketika orang yang golput tapi tidak melakukan apa-apa juga… yah, gak ada gunanya… system tidak berubah, dan golputnya juga tidak terjelaskan alasannya. Biasanya kondisi ini terjadi untuk orang yang golput dengan alasan apatis atau gak sengaja (tidak terdaftar, misalnya).

FS8: Kondisi ini terjadi ketika orang yang golput, kemudian mempromosikan alasan dan alternative yang ia pikirkan, namun promosinya tidak berhasil dan system secara keseluruhan tidak terpengaruh. Pada kondisi ini, mungkin saja tidak ada keuntungan yang diperoleh dan dihasilkan oleh tindakan golput barusan.

FS9: Nah, kondisi ini agak lucu juga. Ketika promosi yang disampaikan oleh orang yang golput berhasil, dan system yang diinginkan orang yang golput terbentuk, tapi ternyata system tersebut, malah lebih buruk dari system sebelumnya… Pada kondisi, orang yang golput bisa dibilang melakukan kemungkaran karena merubah system menjadi sesuatu yang lebih buruk. Ini adalah worst case bagi golput.

FS10: Kondisi ini adalah kondisi paling ideal bagi si pemilih maupun si golput (setara dengan FS4). Karena pada kondisi ini, ide perubahan yang diusung oleh orang yang golput ternyata berhasil dan mengubah system menjadi lebih baik.

FS11: Kondisi ini terjadi kalau promosi orang golput tidak berhasil dan bahkan memperburuk system yang telah ada karena promosi yang ia lakukan. Pada kondisi ini, sangat mungkin orang yang golput telah melakukan kemungkaran karena memperburuk system.

FS12: Kondisi ini terjadi kalau promosi orang yang golput tidak berhasil, tapi promosi itu berhasil menyumbangkan ide sehingga membuat system yang ada menjadi lebih baik. Pada kondisi ini, tentu tidak bisa dibilang bahwa orang yang golput telah melakukan kemungkaran bahkan mungkin ia bisa menjadi semacam ‘penyeimbang’ system yang berjalan, dan member masukan-masukan berharga terhadap system tersebut.

Seperti kita lihat, ada kondisi ideal bagi masing-masing pilihan (golput dan voter): yaitu FS4 (bagi voter) dan FS10 (bagi non-voter/golput).

dan ada kondisi yang paling buruk (worst case) bagi masing-masing pilihan (golput dan voter): yaitu FS5 (bagi voter) dan FS9 bagi non-voter.

Pada FS4, voter bisa dibilang melakukan kebaikan yang paling besar karena berhasil merubah sistem (melalui si A) menjadi yang lebih baik, sementara non-voter tidak berperan apa-apa (dan tidak merugikan siapa-siapa)

sebaliknya pada FS10, non-voter yang paling berperan, sementara voter tidak berperan dan merugikan apa-apa.

Nah, pada FS5, voter bisa bilang bahwa mereka telah berusaha, dan menyalahkan non-voter karena telah membiarkan hal ini terjadi. Walaupun tentunya si voter juga bisa disalahkan karena ikut serta (yang bisa saja berarti menyetujui) sistem yang menghasilkan kondisi seperti ini.

Sementara pada FS9, non-voter juga bisa bilang bahwa mereka telah berusaha, dan mungkin menyalahkan voter karena tidak berpartisipasi dalam upaya mensukseskan langkah mereka. Walaupun tentunya si non-voter juga (sangat) bisa disalahkan karena ikut serta dalam upaya yang menghasilkan kondisi seperti ini.

sementara pada FS-FS lainnya, bisa dibilang voter-nonVoter sama-sama (silih-berganti) berperan atau tidak berperan dalam menghasilkan kondisi-kondisi tersebut. Bisa dibilang, kondisi-kondisi yang lain menyeimbangkan posisi voter-nonVoter dalam pertanyaan: “Mana yang lebih mungkar, voter-nonVoter?”

hal lain yang menarik diperhatikan, adalah bahwa kita (sebagai warga) ‘hanya’ memiliki wewenang di decision 1. Karena pada decision-decision selanjutnya, bisa dibilang kita hanya penonton yang bahkan seandainya protes pun (demo) belum tentu didengarkan…😛 Tentu saja akan selalu ada kemungkinan kita ikut dalam proses kontrol setiap decision (jadi anggota KPK, misalnya). Tapi tentu saja upaya itu akan berada di luar konteks pertanyaan: “Memilih atau Golput?”

kesimpulannya,

analisa yang mengatakan bahwa seseorang yang tidak memilih telah melakukan kemungkaran karena membuka peluang terpilihnya orang yang buruk dan merubah sistem menjadi lebih buruk (FS5), menurut saya terlalu simplistik. Karena masih banyak pertimbangan lain (dan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi) pada hasil akhir tindakan kita: “Memilih atau Golput?”

wallahu’alam,

wassalam,

Haekal

saktisihite.JPGtokoh.jpgtokoh2.jpg

“Sebagian orang menyembah Allah karena ingin mendapatkan sesuatu. Ibadah ini adalah ibadah para pedagang. Sebagian yang lain menyembah Allah karena takut. Ibadah ini adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian kaum menyembah Allah karena hanya ingin bersyukur (kepada-Nya). Ibadah ini adalah ibadah orang-orang yang merdeka. Dan ini adalah ibadah yang paling utama”.

assalamu’alaikum wr wb

penekanan penjelasan saya sih, insya Allah ke:  diperbolehkannya beribadah atas  dasar takut atau mengharapkan imbalan, [b]selama berasal/dikarenakan hanya Allah[/b]
Baca entri selengkapnya »

Allah berfirman yang maksudnya :
“Beruntunglah orang yang membersihkan hatinya dan rugilah orang yang mengotorinya”

Islam menganggap nafsu itu sebagai musuh. Allah SWT telah menegaskan yang maksudnya :
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan”

Dalam ayat ini digunakan tiga bentuk ketegasan, yakni in – taukik, lam – taukik dan fill (Isim fill mubalaghah). Ini menunjukkan bentuk penekanan yang “sungguh-sungguh” membawa kepada kejahatan.

Nafsu adalah musuh dalam diri. Bahkan ia sebagian daripada diri manusia. Ia adalah jismul latif (jisim yang tidak dapat dilihat). Ia sebagian daripada badan tetapi ia perlu dibuang. Jika tidak dibuang ia musuh, hendak dibuang ia sebagian daripada diri. Oleh karena itu sangat sulit untuk melawan hawa nafsu. Nafsu adalah jalan atau high way bagi syaitan. Ini diterangkan oleh hadis Rasulullah SAW yang maksudnya :
“Sesungguhnya syaitan itu bergerak mengikuti aliran darah, maka persempitkan jalan syaitan melalui lapar dan dahaga”

Ini menunjukkan syaitan dapat dilawan dengan melawan hawa nafsu secara mengurangi makan atau berpuasa. Jika nafsu tidak terdidik, jalan syaitan adalah besar. Sedangkan syaitan itu juga adalah musuh. Firman Allah yang maksudnya :
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata”

Penegasan tentang syaitan sebagai musuh hanya sekali berbanding dengan tiga kali pada nafsu. Ini menunjukkan nafsu lebih jahat daripada syaitan. Syaitan dapat lorong (peluang) yang amat luas untuk merusak manusia jika nafsu tidak terdidik.

Menghalau (mengalahkan) syaitan tidak dapat ditiup atau dijampi-jampi. Tetapi didiklah hawa nafsu, niscaya syaitan akan sukar untuk mempengaruhi diri. Jika nafsu terdidik, jalan syaitan akan terputus. Yang bisa dijampi dengan ayat-ayat Quran ini ialah bila syaitan merusak jasad lahir manusia. Jika ini terjadi, syaitan bisa dilawan dengan ayat Kursi, surah An Naas atau lain-lain. Memang ada nas yang menyatakan demikian. Tetapi jika syaitan merusak hati, jampi-jampi itu tidak dapat digunakan lagi tetapi hendaknya didiklah hawa nafsu. Sedangkan bila hati rusak, rusaklah seluruh anggota badan. Oleh karena itu, pada syaitan tdak usah ambil pusing sangat tetapi didiklah nafsu, bermujahadahlah. Jika nafsu tidak terdidik maka mudahlah jalan syaitan mempengaruhi kita. Oleh karena itu perangilah nafsu nescaya secara otomatis akan terpengaruhlah syaitan.

Nafsu diperlukan untuk manusia. Dengan nafsu manusia bisa menjadi kecewa, celaka dan dapat masuk Neraka. Tetapi nafsu juga bisa menjadi alat untuk sampai kepada kebahagiaan di dunia sebelum sampai ke Akhirat.

Baca entri selengkapnya »

Assalamu’alaikum wr wb

Hadis riwayat Abu Hurairah t, ia berkata: Rasulullah r bersabda: Hari kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah dua golongan besar saling berperang sehingga pecahlah peperangan hebat antara keduanya padahal dakwah mereka adalah satu [Shahih Muslim]

Bahwa akan tiba masanya orang-orang muslim itu tidak memiliki imam lalu mereka terpecah-pecah dalam banyak kelompok (perang saudara), maka yang seharusnya diperbuat oleh seorang muslim pada masa itu adalah menjauhi semua kelompok sampai ada salah satu yang menang.

Dalilnya adalah hadits Hudzaifah radhiallahu’anhu :

Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”.

Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?”. Beliau bersabda: “Hindarilah semua kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.

Hadits ini shahih, riwayat Bukhari (3/1319) no. 3411 dan pada nomer yang lain, Muslim (3/1475) no. 1847 dan lain-lain.

Imam At Thabari rahimahullah berkata: “Pada hadits ini ada petunjuk bahwa bila pada suatu saat umat islam tidak memiliki seorang pemimpin/imam, sehingga mereka terpecah-belah menjadi berbagai sekte, maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim untuk mengikuti siapa saja dalam hal perpecahan ini. Akan tetapi hendaknya ia menjauhi mereka semua -bila ia mampu melakukan hal itu- agar ia tidak terjerumus dalam kejelekan” [Dari Fathul Baari (13/44) karya Al-Hafzih Ibnu Hajar rahimahullah].

jadi, saya memandang kelompok-kelompok yang ada sekarang sebagai kelompok-kelompok yang tidak memiliki seorang pemimpin, sehingga saya mencegah diri saya sendiri untuk memasuki salah satu kelompok yang ada… wallahu’alam

wassalam,
Haekal

Millah Ibrahim: cara hidup nabi Ibrahim AS

By: Saif Manzoor

Updated: Nov 2005

Prophet Abraham is the most influential figure in the three monotheistic religions; Islam, Christianity and Judaism. He is respected as their spiritual father by the followers of all these three major religions; together who constitute almost half the human population. No one else holds such an esteemed and unifying position in the human history. It is indeed the fulfillment of God’s promise to Abraham:

Nabi Ibrahim adalah figur yang sangat berpengaruh pada 3 agama monoteis: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Ia dihormati sebagai bapak spiritual mereka oleh penganut ketiga agama mayor ini; yang jumlah keseluruhannya mencapai hampir setengah populasi manusia. Tidak ada orang lain yang memperoleh posisi sebaik dan sepemersatu seperti ini dalam sejarah manusia. Ini sungguh merupakan pemenuhan janji Tuhan terhadap Ibrahim:

“Verily I am going to make you a leader of humankind”. [2:124]

“Sungguh Aku akan menjadikanmu Pemimpin bagi Umat Manusia” [2:124]

Baca entri selengkapnya »

86. Nabi – (Noon-Ba-Alif or Noon-Ba-Wao).

Its plural is Anbia. Naba means to give news. According to Ibn-e-Faris its basic meanings are to move from one place to another; that is why news are called Al-Anba because they go from one place to another. Raghib says that every news cannot be called Nab’aun, but only those which are of use, enrich the information and are true; the element of truth in its meaning is however not supported from the Quran.

adalah bentuk plural dari Anbia. Naba berarti pemberi berita. Berdasarkan Ibnu Faris, arti dasarnya adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Itu sebabnya berita disebut juga Al-Anba karena mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Raghib berkata bahwa setiap berita tidak dapat dikatakan sebagai Nab’aun, tapi hanya berita yang berguna saja yang bisa, yang dapat menambah pengetahuan dan bernilai benar. Elemen kebenaran adalah arti dari berita itu sendiri walaupun tidak didukung dari Quran.

Baca entri selengkapnya »

Assalamu’alaikum wr wb

berikut dasar hukum panggilan SAW dan AS bagi Rasulullah… (sepanjang pengetahuan saya)

Baca entri selengkapnya »

Hukum Menerjemahkan al-Qur’an
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Menerjemahkan al-Qur’an secara harfiah (Letterleijt) menurut kebanyakan ulama merupakan hal yang mustahil mengingat penerjemahan semacam ini memerlukan beberapa persyaratan yang tidak mungkin dapat direalisasikan, yaitu:

Baca entri selengkapnya »

Pengertian al-Qur’an

Secara Bahasa (Etimologi)

Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) [keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Anda dapat menuturkan, Qoro-’a Qor’an Wa Qur’aanan (قرأ قرءا وقرآنا) sama seperti anda menuturkan, Ghofaro Ghafran Wa Qhufroonan (غفر غفرا وغفرانا). Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.*

Baca entri selengkapnya »

ABC
oleh Haekal

Alkisah, di sebuah padang tandus, berhadapan dua buah pasukan (zaman itu belum ada peluru kendali, jadi perang masih ‘gentle’). Sebut saja pasukan A dan pasukan B.
Mereka berhadapan dan saling menghunus pedang.

Baca entri selengkapnya »

PERBEDAAN HADITS, KHABAR, DAN ATSAR

Definisi Hadits

Hadits menurut bahasa berarti baru. Hadits juga – secara bahasa – berarti : “sesuatu yang dibicarakan atau dinukil”. Juga : “sesuatu yang sedikit atau banyak”. Bentuk jamak dari hadits adalah ahaadits. Adapun firman Allah تعالى :

فَلَعَلّكَ بَاخِعٌ نّفْسَكَ عَلَىَ آثَارِهِمْ إِن لّمْ يُؤْمِنُواْ بِهَـَذَا الْحَدِيثِ أَسَفاً

”Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada hadits ini” (QS. Al-Kahfi : 6). Maksud hadits dalam ayat ini adalah Al-Qur’an.

Juga firman Allah تعالى :

وَأَمّا بِنِعْمَةِ رَبّكَ فَحَدّثْ

”Dan adapun nikmat Tuhanmu, maka sampaikanlah” (QS. Adl-Dluhaa : 11). Maksudnya : sampaikanlah risalahmu, wahai Muhammad (Lisaanul-‘Arab Ibnul-Mandhur).

Baca entri selengkapnya »

Apa Itu Hadits Shahih?

Mukaddimah

Berita (khabar) yang dapat diterima bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua klasifikasi pokok, yaitu Shahîh dan Hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi kepada dua klasifikasi lagi, yaitu Li Dzâtihi dan Li Ghairihi. Dengan demikian, klasifikasi berita yang diterima ini menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)
2. Hasan Li Dzâtihi (Hasan secara independen)
3. Shahîh Li Ghairihi (Shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)
4. Hasan Li Ghairihi (Hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)

Dalam kajian kali ini, kita akan membahas seputar bagian pertama di atas, yaitu Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)

Baca entri selengkapnya »

ZIYADAH ATS-TSIQAH

Yang dimaksud dengan ziyadah ats-tsiqah adalah hadits yang terdapat padanya tambahan perkataan dari sebagian perawi yang tsiqah, sedang hadits itu diriwayatkan juga oleh perawi lain (tetapi tidak memakai tambahan itu).

Baca entri selengkapnya »

PEMBAGIAN HADITS MENURUT SANDARANNYA

Hadits menurut sandarannya terbagi menjadi dua, yaitu maqbul (diterima) dan mardud (ditolak). Dan berdasarkan pembagian ini terbagi lagi menjadi empat macam, yaitu :

1. Hadits Qudsi
2. Hadits Marfu’
3. Hadits Mauquf
4. Hadits Maqthu’

Baca entri selengkapnya »

ILMU MUSTHALAH HADITS

Ilmu Musthalah hadits adalah ilmu tentang dasar dan kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan sanad dan matan dari segi diterima dan ditoleknya.

Objeknya adalah sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya.

Buah dari ilmu ini : membedakan hadits shahih dari yang tidak shahih.

Baca entri selengkapnya »

Assalamu’alaikum wr wb

Baru selesai jalan-jalan nih, di milis sebelah… Disitu ada 2 room yang ‘panas’ antara Ahlus Sunnah dengan Ingkarus Sunnah….

Room Ingkarus Sunnah
Room Ahlus Sunnah

Berikut oleh-oleh yang saya dapatkan selama diskusi di sana.

Baca entri selengkapnya »

Assalamu’alaikum wr wb

tulisan ini saya lebih tujukan kepada akhi/ukhti muslim yang lain agar terbentengi dari upaya pemurtadan yang dilakukan oleh kaum non muslim…

Baca entri selengkapnya »