Zainab bt. Jahsy ini adalah puteri Umaima bt. Abd’l-Muttalib, bibi Rasulullah a.s. Ia dibesarkan di bawah asuhannya sendiri dan dengan bantuannya pula. Maka dengan demikian ia sudah seperti puterinya atau seperti adiknya sendiri. Ia sudah mengenal Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau tidak, sebelum ia dikawinkan dengan Zaid. Ia sudah melihatnya sejak dari mula pertumbuhannya, sebagai bayi yang masih merangkak hingga menjelang gadis remaja dan dewasa, dan dia juga yang melamarnya buat Zaid bekas budaknya itu.

Kesimpulan : Gugur lah sudah alasan bahwa Muhammad mengawini Zainab karena kecantikan. Karena jelash Muhammad tahu dengan jelas siapa Zainab.

Sejarah mencatat bahwa Muhammad telah melamar Zainab anak bibinya itu buat
Zaid bekas budaknya. Abdullah b. Jahsy saudara Zainab menolak, kalau saudara perempuannya sebagai orang dari suku Quraisy dan keluarga Hasyim pula, di samping itu semua ia masih sepupu Rasul dari pihak ibu akan berada di bawah seorang budak belian yang dibeli oleh Khadijah lalu dimerdekakan oleh Muhammad.

Hal ini dianggap sebagai suatu aib besar buat Zainab. Dan memang benar sekali hal ini dikalangan Arab ketika itu merupakan suatu aib yang besar sekali. Memang tidak ada gadis-gadis kaum bangsawan yang terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak sekalipun yang sudah dimerdekakan. Tetapi Muhammad justeru ingin menghilangkan segala macam pertimbangan yang masih berkuasa dalam jiwa mereka hanya atas dasar ashabia (fanatisma) itu. Ia ingin supaya orang mengerti bahwa orang Arab tidak lebih tinggi dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.

“Bahwa orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Tuhan ialah orang yang lebih bertakwa.” (Qur’an, 49:13)

Kesimpulan : Kenapa tidak dilamar untuk dirinya sendiri, kok malah diberikan bekas budaknya ? Jadi tidak masuk diakal karena tertarik oleh Zainab

Setelah penolakan ini maka turunlah ayat ini

“Bagi laki-laki dan wanita yang beriman, bilamana Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketentuan, mereka tidak boleh mengambil kemauan sendiri dalam urusan mereka itu. Dan barangsiapa tidak mematuhi Allah dan RasulNya, mereka telah
melakukan kesesatan yang nyata sekali.” (Qur’an, 33:36)
´
Karena Rasullullah yang meminta maka Zainab dan keluarganya menerima. Kalau bukan Rasul yang meminta maka sudah di tolak mentah mentah karena memang tidak lumrah bekas budak dapat Wanita bangsawan.

Lalu Zaid dikawinkan kepada Zainab setelah mas-kawinnya oleh Nabi disampaikan.
Dan sesudah Zainab menjadi isteri, ternyata ia tidak mudah dikendalikan dan tidak mau tunduk. Malah ia banyak mengganggu Zaid. Ia membanggakan diri kepadanya dari segi keturunan dan bahwa dia katanya tidak mau ditundukkan oleh seorang budak.

Sikap inilah yang jadi masalah dalam rumah tangga Zaid dan Zainab

Sikap Zainab yang tidak baik kepadanya itu tidak jarang oleh Zaid diadukan kepada Nabi, dan bukan sekali saja ia meminta ijin kepadanya hendak menceraikannya. Tetapi Nabi menjawabnya: “Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan.
Hendaklah engkau takut kepada Allah.”

Kesimpulan : Lho cerai kok malah dicegah ? Bukannya kok nggak dibiarin aja…. Dari sini jelas tuduhan yang tidak berdasar, kalau nabi jatuh cinta karena tidak sengaja kecantikan Zainab

Tetapi Zaid tidak tahan lama-lama bergaul dengan Zainab serta sikapnya yang angkuh kepadanya itu. Lalu diceraikannya.

Kehendak Tuhan juga kiranya yang mau menghapuskan melekatnya hubungan anak angkat dengan keluarga bersangkutan dan asal-usul keluarga itu, yang selama itu menjadi anutan masyarakat Arab, juga pemberian segala hak anak kandung
kepada anak angkat, segala pelaksanaan hukum termasuk hukum waris dan nasab, dan supaya anak angkat dan pengikut itu hanya mempunyai hak sebagai pengikut dan sebagai saudara seagama. Demikian firman Tuhan turun:

“Dan tiada pula Ia menjadikan anak-anak angkat kamu menjadi anak-anak kamu. Itu hanya kata-kata kamu dengan mulut kamu saja. Tuhan mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar.” (Qur’an, 33:4)

Ini berarti bahwa anak angkat boleh kawin dengan bekas isteri bapa angkatnya, dan bapa boleh kawin dengan bekas isteri anak angkatnya. Tetapi bagaimana caranya melaksanakan ini? Siapa pula dari kalangan Arab yang dapat membongkar
adat-istiadat yang sudah turun-temurun itu. Muhammad sendiri kendatipun dengan kemauannya yang sudah begitu keras dan memahami benar arti perintah Tuhan itu, masih merasa kurang mampu melaksanakan ketentuan itu dengan jalan mengawini
Zainab setelah diceraikan oleh Zaid, masih terlintas dalam pikirannya apa yang kira-kira akan dikatakan orang, karena dia telah mendobrak adat lapuk yang sudah berurat berakar dalam jiwa masyarakat Arab itu. Itulah yang dikehendaki Tuhan dalam firmanNya:

“Dan engkau menyembunyikan sesuatu dalam hatimu yang oleh Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia padahal hanya Allah yang lebih patut kautakuti.” (Qur’an, 33:37)

Ketakutan akan cemooh orang masih kalah dengan ketaatan kepada tuhannya akhirnya terjadilah perkawinan zainab dengan rasul

“Maka setelah Zaid meluluskan kehendak wanita itu, Kami kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak tidak menjadi halangan bagi orang-orang beriman kawin dengan (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, bilamana kehendak mereka (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah itu mesti dilaksanakan.” (Qur’an, 33:37)

Dengan demikian hukum Qur’an mengenai mengawini anak angkat dilaksanakan dengan nabi sebagai contohnya. Karena jelas jaman itu tidak ada bakal yang mau karena takut dicemooh orang. Jadi perkawinan ini merupakan beban berat saat itu.

sumber: MyQuran.org

Kebohongan Kisah Cinta Nabi dengan Zainab Binti Jahsy

Posted by zein on May 21, ’07 5:11 AM for everyone

Ada sekelompok orang yang tidak tahu menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana layaknya, beranggapan bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini sebabnya yaitu tatkala beliau melihat Zaenab binti Jahsy sambil berkata kagum: “Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati” sejak itu Zaenab mendapat tempat khusus di dalam hati Rasulullah Saw, oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah: “Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat :

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (al-Ahzab:37)[1]

Sebagain orang beranggapan ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi, bahkan sebagian penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para Nabi dan meyebutkan kisah Nabi ini di dalamnya. Hal ini terjadi akibat kejahilannya terhadap Alquran dan kedudukan para Rasul, hingga ia memaksakan kandungan ayat apa-apa yang tidak layak dikandungnya dan menisbatkan kepada Rasulullah suatu perbuatan yang Allah menjauhkannya dari diri Beliau

Kisah sebenarnya, bahwa zainab binti Jahsy adalah istri Zaid ibn Harisah .–bekas budak Rasulullah– yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid ibn Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid. Oleh Sebab itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya, maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang zainab, sementara Beliau tahu bahwa Zainab akan dinikahinya jika dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang jika mengawini wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi dalam dirinya, dan rasa takut inilah yang tejadi dalam dirinya. Oleh karena itu di dalam ayat Allah menyebutkan karunia yang dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal yang memang Allah halalkan baginya sebab Allahlah yang seharusnya ditakutinya. Jangan Sampai beliau takut berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia, setelah itu Allah memberitahukannya bahwa Allah langsung Yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai kebolehan menikahi bekas istri anak angkat, adapun menikahi bekas istri anak kandung maka hal ini terlarang.sebagaimana firman Allah :

“(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)” (an-Nisa :23).

Allah berfirman dalam surat lain :

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu.” (al-Ahzab: 40).

Allah berfirman di pangkal surat ini

“Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.” (al–Ahzab:4).

Perhatikanlah bagaiamana pembelaan terhadap Rasulullah ini, dan bantahan terhadap orang-orang yang mencelanya. Wabillahi at-
Taufiq.

Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. Aisyah adalah istri yang paling dicintainy, namun kecintaannya kepada Aisyah dan kepada lainnya tidak dapat menyamai cintanya tertinggi, yakni cinta kepada Rabbnya. Dalam hadis shahih :

“Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang kekasih dari salah seorang penduduk bumi maka aku akan menjdikan Abu Bakar sebagai kekasih.”[2]

sumber: [Ar-Royyan-2615] Terapi Al-Isyq

satu lagi tentang Zainab:

Zainab binti Jahsy -radhiallaahu ‘anha-

Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya’mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra’, namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, “Aku rela Zaid menjadi suamimu”. Maka Zainab berkata: “Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya. Maka turunlah firman Allah (artinya): “Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab:36).

Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta’at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.

Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.

Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: “Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah”.

Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar’i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya. Maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:”Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (Al-Ahzab:37).

Al-Wâqidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan ‘Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:”Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?”, Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.

Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliallâhu ‘anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:”Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya”. Dan dalam riwayat lain,”Allah telah menikahkanku di langit”. Dalam riwayat lain,”Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh”. Dan dalam sebagian riwayat lain,”Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh”.

Zainab radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah ‘Aisyah radliallâhu ‘anha tatkala berkata:”Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

Beliau radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala ‘Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:”Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda”. Kemudian beliau berkata: “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: ‘Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…’ “.

Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.

Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi’. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.

sumber :www.alsofwah.or.id

sumber: Komunitas Muda Baitul Izzah

penjelasan mengenai Zaynab bint Jahsh:

Zaynab bint Jahsh, may Allah be pleased with her, married the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) in 5 AH, when she was thirty-five and the Prophet was fifty-eight, but only after her pervious marriage, which had been arranged by the Prophet himself, had ended in divorce. As with all the marriages of the Prophet Muhammad, there was much for all the Muslims to learn from it. Zaynab bint Jahsh was the Prophet Muhammad’s cousin, her mother Umayma being the daughter of Abdul Muttalib, Muhammad’s grandfather, who, while he was alive, had ensured the safety of his grandson, thanks to his position as one of the most respected leaders of the Quraish. Thus Zaynab bint Jahsh came from one of the noblest families of the Quraish, and everyone expected her to eventually marry a man with the same high social status.

The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) was well aware that it is a person’s standing in the eyes of Allah that is important, rather than his or her status in the eyes of the people. He wanted her to marry a young man called Zayd ibn Harith, whose background was very different to that of Zaynab bint Jahsh. Zayd had been taken prisoner while he was still a child during one of the inter-tribal wars that had been common before the coming of Islam. He had been sold as a slave to a nephew of Khadijah (may Allah be pleased with her) who had given Zayd to her as a gift. In turn, Khadijah had given him to the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) in the days before the revelation of the Qur’an had begun, and the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) had given him his freedom and adopted him as his own son, at the age of eight.

The Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) had watched both Zayd and Zaynab grow up, and thought they would make a good couple, and that their marriage would demonstrate that it was not who their ancestors were, but rather their standing in the sight of Allah, that mattered. When the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) asked for her hand on behalf of Zayd, Zaynab had her family were shocked at the idea of her marrying a man who in their eyes was only a freed slave. Moreover, Zaynab had wanted to marry the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) himself and in fact he had already been asked by her family whether or not he would like to marry her. At first both she and her brother refused, but then the following ayat was revealed:

It is not for a believing man or a believing woman, when a matter has been decided by Allah and His Messenger, to have any say in their decision; and whoever disobeys Allah and His Messenger has most clearly gone astray. (Quran 33:36)

When Zayd, who had also had misgivings about the proposed match, and Zaynab realized that there was no difference between what the Prophet wanted and what Allah wanted, they both agreed to the marriage, the Prophet providing a handsome dowry for Zaynab on Zayd’s behalf. The marriage, however, was not a success. Although both Zaynab and Zayd were the best of people, who loved Allah and His Messenger, they were very different and in the end they could not overcome their incompatibility. Zayd asked the Prophet’s permission to divorce Zaynab more than once, and although he was counseled to hold onto his wife and to fear Allah, in the end the divorce took place. The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) then was ordered by Allah to marry Zaynab bint Jahsh, while he did in 5 AH, when he was fifty-eight years old, and she was thirty-five years old. In doing so, he demonstrated beyond doubt that in Islam an adopted son is not regarded in the same light as a natural son, and that although a father may never marry a woman whom his natural son has married and then divorced, the father of an adopted son is permitted to marry a woman who was once, but is no longer, married to that adopted son. Furthermore, by marrying Zaynab, the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) also confirmed that it is permissible for cousins to marry, and , at the same time, Zaynab was given her heart’s desire to be married to the Best of Creation.

The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) received the command to marry Zaynab while he was with A’isha. After he had received the revelation, he smiled and said, “Who will go and give Zaynab the good news?” and he recited the ayat that he had received. Some say that it was Zayd himself who told her the good news. When Zaynab heard the news, she stopped what she was doing and prayed to thank Allah. Afterwards, she was fond of pointing out that her marriage had been arranged by Allah. It was at this point that the Prophet changed her name from Barra to Zaynab.

Zaynab’s wedding feast was also the occasion for another ayat of Qur’an to be sent down. The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) sacrificed a sheep and then commanded his servant, Anas, to invite the people to partake of it. After they had eaten, two men remained there after the meal chatting. The Messenger of Allah went out and said goodnight to his other wives and then came back and the two men were still there chatting. It was very hard on the Prophet who did not like to criticize people directly, and so he waited patiently until they left. Then Allah sent down the following ayat which is known as “The Ayat of Hijab”:

O you who believe! Do not go into the Prophet’s rooms except after being given permission to come and eat, not waiting for the food to be prepared, However, when you are called, then go in and when you have eaten, then disperse, and do not remain wanting to chat together. If you do that, it causes injury to the Prophet though he is too reticent to tell you. But Allah is not reticent with the truth. When you ask his wives for something, ask them from behind a screen. That is purer for your hearts and their hearts. It is not for you to cause injury to the Messenger of Allah nor ever to marry his wives after him. TO do that would be something dreadful in the sight of Allah. Whether you make something known or conceal it, Allah has knowledge of all things. There is no blame on them regarding their fathers or their sons or their brothers or their brothers’ s sons or their sisters’ s sons or their women or those their right hands own. Have fear of Allah. Allah is witness over everything. Allah and His angels pray blessings of the Prophet. O you who believe! Pray blessings on him and ask for peace for him. (Quran 33:53-56)

Zaynab was a woman who was constantly immersed in the worship of Allah. It is related by Anas ibn Malik that once the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) entered the mosque and found a rope hanging down between two of the pillars, and so he said, “What is this?” He was told, “It is for Zaynab. She prays, and when she loses concentration or feels tired, she holds onto it.” At this time the Prophet said, “Untie it. Pray as long as you feel fresh, but when you lose concentration or become tired, you should stop.”

Zaynab bint Jahsh (may Allah be pleased with her) was with the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) for six years, and lived for another nine years after his death, dying at the age of fifty, in 20 AH, and thus fulfilling the Prophet’s indication that she would be the first of his wives to die aftehim. Zaynab bint Jahsh, like Zaynab bint Khuzayma before her, was very generous to the poor, and indeed the Prophet said, when speaking of her to his other wives, “She is the most generous among you.”

It has been related by A’isha that the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) once said to his wives, “The one who has the longest hands among you will meet me again the soonest.” A’isha added, “They use to measure each other’s hands to see whose as longest, and it was the hand of Zaynab that was the longest, because she used to work by hand and give away (what she earned) in charity.” The Messenger of Allah said to Umar, “Zaynab bint Jahsh is one who is full of prayer.” A man said, “Messenger of Allah, what is that?” He said, “The one who is humble and earnest in prayer.” A’isha also said that Zaynab, “I have never seen a woman so pure as Zaynab, so God-fearing, so truthful, so attentive to family ties, so generous, so self-sacrificing in everyday life, so charitable, and thus so close to Allah, the Exalted.”

Several years after the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) had died, when Umar was the khalif, great wealth came to the Muslims as a result of their victories in fighting the Persians. The immense treasures of Chosroes, the Persian Emperor, fell into their hands, and when Umar (may Allah be pleased with him) sent Zaynab a pile of gold as her share of the treasure, she called her maid servant and told her to take a handful of it to so-and-so, naming one of the poor people of Medina. One after another, she named all the poor people whom she knew, until they had all received a share of the treasure. Then she told her maidservant to see what was left. All that remained of the large pile of gold was eighty dinars, and this she accepted as her share, thanking Allah for it; but, because she believed so much money was a temptation, she asked Allah that she would never witness such a large distribution of wealth again.

By the time a year had passed, when Umar again came to distribute money amongst those wives of the Prophet who were still alive, her prayer had been granted for she had already passed away, may Allah be pleased with her.

sumber: anwary-islam