Assalamu’alaikum wr wb

Kepada saudara-saudaraku, baik dari Sunni maupun dari Syiah…

Dalam keadaan umat Islam yang sedang diserang seperti saat ini (bukankah sebutan Jamaah Islamiyah sebagai teroris, bisa juga ditujukan untuk seluruh umat Islam?). Bukankah akan lebih baik kalau semua golongan dalam Islam (kecuali yang memang bisa dianggap ‘keluar’ dari Dien Islam) untuk bersatu menghadapi badai fitnah ini?

Sebelum saya berbicara mengenai Persatuan Umat Islam, mari kita lihat terlebih dahulu tentang hal-hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Dari situ, kita dapat menilai apakah Syiah (bagi golongan Sunni) atau Sunni (bagi golongan Syiah) masih bisa dianggap Islam?

Kalau masih, bukankah berlaku:

Dari Abu Hurairah “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”.
HR. Muslim

Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda: “Janganlah kalian saling hasut, saling najsy (memuji barang dagangan secara berlebihan), saling benci, saling berpaling, dan janganlah sebagian di antara kalian berjual beli kepada orang yang sedang berjual beli dengan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menganiaya, tidak mengecewakannya, dan tidak menghinanya. Takwa itu ada disini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali- Sudah termasuk kejahatan seseorang bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram baik darahnya, hartanya dan kehormatannya.”
Riwayat Muslim.

‘Artinya : Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri? [Hadits Riwayat Bukhari 13, Muslim 45 bersumber dari sahabat Anas]
?

Baiklah, mari kita tengok kembali, hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang:

kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara? kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

Kufur itu ada kufur besar dan kufur kecil

Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam.
Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur amali. Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar.(Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan)

Yang termasuk ke dalam kufur besar (yang membatalkan keislaman seseorang) adalah:

1. Menyekutukan Allah

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [At-Taubah: 31]

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak[1159] tatkala yang hak itu datang kepadanya? bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? [Al-Ankabut : 68]

2. Enggan mengikuti perintah Allah dan Sombong

Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.[Al-Baqarah : 34]

3. Meragukan rukun Islam

Dan Aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya Aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”.
Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” [Al-Kahfi : 36-37]

4. Nifaq

Yang demikian itu adalah Karena bahwa Sesungguhnya mereka Telah beriman, Kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; Karena itu mereka tidak dapat mengerti. [Al-Munafiqun : 3]

5. Berpaling dari peringatan Allah

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. [Al-Ahqaf : 3]

Sementara yang termasuk ke dalam kufur kecil adalah:

1. Mengingkari nikmat yang diberikan Allah

Mereka mengetahui nikmat Allah, Kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.[An-Nahl : 83]

2. Membunuh orang muslim

“Artinya : Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

3. Bersumpah dengan nama selain Allah

“Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik” [At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh Al-Hakim]

4. Mengolok-olok dien Allah

65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
66. Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At-Taubah: 65-66]

dari uraian di atas, bisakah saudara-saudara sekalian menilai apakah Sunni (bagi Syiah) maupun Syiah (bagi Sunni) sudah dianggap keluar dari Islam (kufur)?

Sebentar, sebelum antum mulai menilai, ingatlah asas objektivitas dalam menilai suatu ajaran:
1. Nilailah ajarannya, jangan orangnya.

2. Jangan terlalu mudah mengeneralisir. Contoh: Umat Islam di Pulau Jawa, tentu tidak mau dinilai: sering berdoa ke kuburan, menyembah Nyi Roro Kidul, dsb. Hanya karena segelintir umat melakukannya, bukan?

3. Nilailah perbuatannya, jangan menebak hatinya.

Hadis riwayat Abu Hurairah t, ia berkata: Rasulullah r bersabda: Sesungguhnya Allah melewati (tidak memperhitungkan) kata hati pada umatku, selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya

Umar Ibnu Khattab berkata, “Ada orang yang diringankan (dari kufur) oleh wahyu tetapi kemudian tidak lagi wahyu setelah Nabi Muhammad Saw. (tiada), maka kita akan menilai dengan apa yang tampak. Siapa saja yang menunjukan kepada kita kejahatan kami tidak akan menerima itu dari mereka.”

4. Jangan melandaskan penilaian hanya berdasarkan prasangka atau qila wa qola

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.[Al-Israa : 36]

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Hujurat: 12]


Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta”

5. Hendaklah selalu bertabayyun dalam menerima setiap informasi

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[Al-Hujurat : 6]

Rasulullah bersabda : ‘Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar (tanpa mencari kejelasan).’ [Shahih Muslim I/24, cet. Dar Ibnu Hazm, Beirut].

Adapun mengenai pertikaian Sunni-Syiah, mari kita analisis, apakah lebih besar manfaatnya atau mudharatnya?

Manfaat (menurut yang pro-pertikaian):
membersihkan Islam dari bidah/kesesatan

Mudharat (menurut yang kontra-pertikaian):
Memecah belah Islam sehingga menjadi lemah dan mudah diserang serta dijadikan santapan para musuh Islam.

Kira-kira, dari manfaat dan mudharat di atas, mana yang lebih urgen kita dahulukan?

Sekali lagi, saya tidak sedang membela Sunni ataupun Syiah….
Saya membela Persatuan Umat…

Wassalamu’alaikum wr wb