Assalamu’alaikum wr wb

sekalian deh, ini pertanyaan saya yang belum terjawab sama anak buah antum yang lain (Ingkarus Sunnah):

Komunikasi adalah alat untuk mentransmisikan sebuah makna dari satu entitas ke entitas lain.
Bahasa adalah salah satu alat yang dapat digunakan dalam proses komunikasi

lihat skema di bawah ini baik-baik:

skema pewahyuan dan ajaran Rasul terhadap orang-orang sekitarnya:

Allah –> Rasul

Allah mentransmisikan apa yang hendak Ia ajarkan kepada Rasul via Jibril dalam bahasa Arab. Verifikator? Jibril… Dijamin kebenarannya oleh Allah…

sehingga

X –> X

dimana X adalah makna ajaran yang disampaikan Jibril kepada Rasul

Rasul dijamin menerima X (makna ajaran) yang sama dengan X (makna ajaran) yang dimaksudkan oleh Allah…

kemudian Skema pengajaran Rasul terhadap orang-orang sekitarnya:

Rasul –> Orang-orang sekitarnya

X –> X/Y

maksud X/Y adalah makna yang terserap oleh orang-orang sekitarnya bisa X bisa juga Y. Verifikator? Rasul sendiri…

sehingga Y ketika dikonfirmasi kepada Rasul, bisa diperbaiki menjadi X.

Sejauh ini, skema ajaran tak ada ‘masalah’ kalau menurut antum sekalian (dengan menggunakan logika antum sekalian yang menolak semua yang berdasarkan pada ‘katanya’ dan tidak bisa diverifikasi oleh Allah dan Rasul-Nya langsung)…

Sekarang, kita lihat skema penerjemah (seandainya ada) pada zaman Rasul:

Rasul –> Penerjemah
X –> F(X) –> B

dimana X adalah ajaran Rasul yang berbahasa Arab, dan diterjemahkan melalui fungsi F kedalam bahasa Indonesia (B). Verifikator? Rasul sendiri… Sehingga bisa dijamin bahwa B = X

Nah, sekarang, lihat skema keadaan kita sekarang:

X1————————X2
F1(X1)——————–F2(X2)
B1————————B2

dimana:
X1 = Bahasa Arab zaman Rasul
X2 = Bahasa Arab zaman sekarang
F1(X1) = Fungsi penerjemahan zaman Rasul terhadap bahasa Arab zaman Rasul
F2(X2) = Fungsi penerjemahan sekarang terhadap bahasa Arab zaman sekarang
B1 = Bahasa Indonesia zaman Rasul (emang udah ada? Ngakak)
B2 = Bahasa Indonesia zaman sekarang…

Nah, pertanyaannya (dengan menggunakan logika antum sekalian yang menolak semua yang berdasarkan pada ‘katanya’ dan tidak bisa diverifikasi oleh Allah dan Rasul-Nya langsung):

Darimana Antum bisa yakin bahwa:
X1 = X2
F1(X1) = F2(X2)
B1=B2

Untuk orang Arabnya sendiri, sekarang, kita lihat skema pembelajaran sebuah bahasa pada manusia:

C——–D
0——–X

dimana
C=manusia ketika lahir
D=manusia ketika sudah faham bahasa
0=keadaan manusia mengenai pemahamannya terhadap bahasa ketika lahir (0: nol)
X=keadaan manusia mengenai pemahamannya terhadap bahasa ketika sudah faham bahasa (Arab)

dimana pada proses pembelajaran itu, ada ‘pengajar’ yang memperkenalkan bahasa terhadap manusia tersebut (orang tuanya)…

sekarang, untuk antum yang ingkarus hadits (dengan menggunakan logika antum sekalian yang menolak semua yang berdasarkan pada ‘katanya’ dan tidak bisa diverifikasi oleh Allah dan Rasul-Nya langsung):

darimana antum bisa yakin bahwa:
C———–D
0————–X

proses pembelajaran bahasa (Arab) tersebut sama dengan proses pembelajaran bahasa (Arab) pada zaman Rasul? dan X yang diserap oleh manusia tersebut sama dengan X yang diserap oleh orang arab yang hidup pada zaman Rasul?

Sekarang, kita lihat salah satu bentuk perubahan yang terjadi dalam bahasa Arab (yang menyebabkan akh Isa bingung sendiri):

Kata Hadits pada waktu Rasul hidup, hanya bermakna 2:
1. Perkataan
2. Sesuatu yang baru

sehingga ayat-ayat yang diposting oleh akh Isa hanya bermakna salah satu dari 2 makna di atas….
Itu sebabnya ayat-ayat yang diposting oleh akh Isa tidak ‘bertabrakan’ dengan ayat yang diposting oleh akh Arista (yang mengatakan)
bahwa Al-Quran adalah Ahsanal Hadits (Perkataan yang baik).

Baru setelah Rasul meninggal, muncul satu term Hadits lain yang digunakan oleh umat Islam sampai sekarang sebagai kata yang merujuk pada Contoh/Perkataan/Perbuatan Rasul….

Itu sebuah perluasan kata dalam sebuah bahasa…. Wajar terjadi pada setiap bahasa yang ada.

Nah, untuk antum sekalian (para ingkarus hadits) dengan menggunakan logika antum sekalian yang menolak semua yang berdasarkan pada ‘katanya’ dan tidak bisa diverifikasi oleh Allah dan Rasul-Nya langsung,
pertanyaannya:
Darimana antum semua yakin bahwa Al-Quran yang antum sekalian fahami/maknakan, sama dengan apa yang Rasul fahami/maknakan?

wassalam,

Haekal