Assalamu’alaikum wr wb

Baru selesai jalan-jalan nih, di milis sebelah… Disitu ada 2 room yang ‘panas’ antara Ahlus Sunnah dengan Ingkarus Sunnah….

Room Ingkarus Sunnah
Room Ahlus Sunnah

Berikut oleh-oleh yang saya dapatkan selama diskusi di sana.

Alasan para ingkarus Sunnah sebenarnya sederhana (walaupun mereka berdalil dengan banyak dalil😛 ):

1. Keraguan atas authentifikasi/keaslian hadits (benarkah apa yang dicatat oleh para imam hadits seperti Bukhari dan Muslim adalah apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Rasulullah?)

2. Pertanyaan apa dasarnya menjadikan hadits sebagai sumber hukum dalam Islam…

Implikasi dari keraguan-keraguan tersebut, berimbas pada:
– tatacara mereka beragama (paling tidak, salah seorang dari mereka mengaku shalat sebebas-bebasnya, jumlah rakaatnya, jumlah takbirnya, dsb. Bahkan mereka hanya mengakui 3 waktu shalat)…

-Mereka bahkan (paling tidak, salah seorang dari mereka) menganggap para sahabat (Ali bin Abi Thalib), kisah perang Rasul, Khulafaur Rasyidin, semuanya hanya kisah fiktif belaka :unsure:

Sekilas, pandangan mereka ‘terkesan’ intelektual (baca: logis) walaupun ternyata setelah dikejar, semakin tidak intelektual/tidak logis… :laugh:

Nah, untuk membendung ‘arus bawah tanah’ seperti ini, saya ingin berbagi informasi yang saya dapatkan…

1. Keraguan atas authentifikasi/keaslian hadits (benarkah apa yang dicatat oleh para imam hadits seperti Bukhari dan Muslim adalah apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Rasulullah?)

Koleksi hadits yang pertama kali dikenal adalah: The Sahifa Of Hammam bin Munabbih. Disusun oleh Hammam bin Munabbih [110/719] (Dari nama ketauan kan… Kedip-kedipin ). Beliau adalah murid dari Abu Hurairah [58/667] (hidup pada zaman rasulullah masih hidup). [A. F. L. Beeston, T. M. Johnstone, R. B. Serjeant and G. R. Smith (Ed.), Arabic Literature To The End of Ummayyad Period, 1983, Cambridge University Press, p. 272]

Dari Abu Hurairah, beliau meriwayatkan 138 hadits yang dikutip oleh Bukhari sebanyak 98 hadits. Mengenai perbandingan kutipan antara Bukhari dan Abu Hurairah, salah seorang peneliti barat (kalau antum cenderung tidak percaya terhadap peneliti Islam): Marston Speight menyebutkan:

… the texts in Hammam and those recorded in Ibn Hanbal, Bukhari and Muslim with the same isnad show almost complete identity, except for a few omissions and interpolations which do not affect the sense of the reports. On the other hand, the same ahadith as told by other transmitters in the three collections studied show a rich variety of wording, again without changing the meaning of the reports [R. M. Speight, “A Look At Variant Readings In The Hadith”, Der Islam, 2000, Band 77, Heft 1, p. 170]

Silahkan terjemahkan sendiri…. 😛

Yang intinya, hadits telah mulai ditulis pada masa 110H dan terpelihara sampai masa bukhari dan sampai ke kita… Yang artinya lagi, hadits tersebut adalah benar-benar ucapan/tindakan Rasulullah….

Tambahan, berikut adalah daftar kitab-kitab hadits beserta tahun penyusunannya:

Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke I H.
1. Ash-Shahifah oleh Imam Ali bin Abi Thalib.
2. Ash-Shadiqah oleh Imam Abdullah bin Amr bin ‘Ash.
3. Daftar oleh Imam Muhammad bin Muslim ( 50 – 124 H ).
4. Kutub oleh Imam Abu Bakar bin Hazmin.

Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-2 H.
1. Al-Musnad oleh Imam Abu Hanifah an-Nu’man ( wafat 150 H ).
2. Al-Muwaththa oleh Imam Malik Anas ( 93 – 179 H ).
3. Al-Musnad oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi’I ( 150 – 204 H ).
4. Mukhtaliful Hadits oleh Muh, bin Idris asy-Syafi’I ( 150 – 204 H ).
5. Al-Musnad oleh Imam Ali Ridha al-Katsin ( 148 – 203 H ).
6. Al-Jami’ oleh Abdulrazaq al-Hamam ash Shan’ani ( wafat 311 H ).
7. Mushannaf oleh Imam Syu’bah bin Jajaj ( 80 – 180 H ).
8. Mushannaf oleh Imam Laits bin Sa’ud ( 94 – 175 H ).
9. Mushannaf oleh Imam Sufyan bin ‘Uyaina ( 107 – 190 H ).
10.as-Sunnah oleh Imam Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i ( wafat 157 H ).
11.as-Sunnah oleh Imam Abd bin Zubair b. Isa al-Asadi.

Kitab-kitab Hadits pada abad ke-3 H.
1. Ash-Shahih oleh Imam Muh bin Ismail al-Bukhari ( 194 – 256 H ).
2. Ash-Shahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj ( 204 – 261 H ).
3. As-Sunan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidzi ( 209 – 279 H ).
4. As-Sunan oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’at ( 202 – 275 H ).
5. As-Sunan oleh Imam Ahmad b.Sya’ab an-Nasai ( 215 – 303 H ).
6. As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad Damiri ( 181 – 255 H ).
7. As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah Ibnu Majah ( 209 – 273 H ).
8. Al-Musnad oleh Imam Ahmad bin Hambal ( 164 – 241 H).
9. Al-Muntaqa al-Ahkam oleh Imam Abd Hamid bin Jarud ( wafat 307 H ).
10. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn. Abi Syaibah ( wafat 235 H ).
11. Al-Kitab oleh Muhammad Sa’id bin Manshur ( wafat 227 H ).
12. Al-Mushannaf oleh Imam Muhammad Sa’id bin Manshur ( wafat 227 H ).
13. Tandzibul Afsar oleh Imam Muhammad bin Jarir at-Thobari ( wafat 310 H ).
14. Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurthubi ( wafat 276 H ).
15. Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih ( wafat 237 H ).
16. Al-Musnad oleh Imam ‘Ubaidillah bin Musa ( wafat 213 H ).
17. Al-Musnad oleh Abdibni ibn Humaid ( wafat 249 H ).
18. Al-Musnad oleh Imam Abu Ya’la ( wafat 307 H ).
19. Al-Musnad oleh Imam Ibn. Abi Usamah al-Harits ibn Muhammad at-Tamimi ( 282 H ).
20. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim Ahmad bin Amr asy-Syaibani ( wafat 287 H ).
21. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi’amrin Muhammad bin Yahya Aladani ( wafat 243 H ).
22. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin al-Askari ( wafat 282 H ).
23. Al-Musnad oleh Imam bin Ahmad bin Syu’aib an-Nasai ( wafat 303 H ).
24. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin Ismail at-Tusi al-Anbari ( wafat 280 H ).
25. Al-Musnad oleh Imam Musaddad bin Musarhadin ( wafat 228 ).

Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-4 H.
1. Al-Mu’jam Kabir, ash-Shagir dan al-Ausath oleh Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani ( wafat 360 H ).
2. As-Sunan oleh Imam Darulkutni ( wafat 385 H ).
3. Ash-Shahih oleh Imam Abu Hatim Muhammad bin Habban ( wafat 354 H ).
4. Ash-Shahih oleh Imam Abu ‘Awanah Ya’qub bin Ishaq ( wafat 316 H ).
5. Ash-Shahih oleh Imam Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq ( wafat 311 H ).
6. Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa’id bin’Usman al-Baghdadi ( wafat 353 H ).
7. Al-Muntaqa oleh Imam Qasim bin Asbagh ( wafat 340 H ).
8. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi ( wafat 321 H ).
9. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhammad bin Ahmad ( wafat 402 H ).
10.Al-Musnad oleh Imam Muhammad bin Ishaq ( wafat 313 H ).
11.Al-Musnad oleh Imam Hawarizni ( wafat 425 H ).
12.Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi ( wafat 385 H ).
13.Al-Mustadrak ‘ala-Shahihaini oleh Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim an-Naisaburi ( 321 – 405 H ).

Jadi, hadits tidak terbatas pada bukhari/muslim saja. Banyak kitab-kitab lain yang bisa dijadikan pembanding nilai kebenaran suatu hadits. Tinggal antum mau/tidak membacanya? atau cukup langsung apriori dan menolak semuanya?

Oh iya, sekedar mengingatkan, yang kami (ahlus sunnah) ikuti bukanlah kitabnya, tapi contoh dari Rasul-Nya…

Tulisan hanyalah salah satu cara untuk menunjukkan kebenaran…
Buku hanyalah salah satu cara untuk mengumpulkan tulisan…

konten atau matan (istilah ilmu haditsnya) adalah apa yang sebenarnya diucapkan atau dilakukan oleh Rasulullah…
untuk mengetahui apa yang sebenarnya diucapkan atau dilakukan oleh Rasulullah, ada beberapa metode pengajaran:
– sama’ (mendengar secara langsung pada guru hadits),
– qira’ah (murid membaca guru menyimak),
– ijazaah ( pemberian izin guru kepada muridnya untuk mengajarkan kitab atau hadits tertentu),
– munawalah (penyebaran hadits dengan era guru memberikan kitabnya kepada muridnya),
– kitabah (guru menuliskan hadits untuk muridnya),
– I’lam (guru memberitahu muridnya bahwa suatu hadits atau kitab hadits pernah didengar),
– washiyah (proses pengajaran hadits melalui pesan),
– wijdah (murid menemukan kitab hadits yang belum pernah diriwayatkan).

Dari delapan metode tersebut, hanya 2 yang ‘diturunkan’ berupa tulisan. Dan ada 2 yang ditolak oleh Bukhari sebagai sumber hadits: washiyah (yang menurut antum, ‘katanya’) dan wijdah (sesuatu yang hanya murid tersebut yang mengetahuinya, dan besar kemungkinan hanya hasil pemikiran dari murid tersebut).

Dari penjelasan di atas, semoga sudah jelas bahwa konten tidaklah terikat pada tulisan/buku. Konten adalah konten, terpisah dari periwayatannya.

Sebagai contoh:

– Para sahabat melakukan ‘sesuatu’ secara bersamaan (serentak) dan seragam (ct: tata cara sholat)
– Para Tabi’in melakukan hal tersebut dengan cara mencontoh apa yang dilakukan oleh sahabat (ct: Hammam bin Munabbih melihat contoh tata cara sholat dari Abu Hurairah yang melihat langsung dari Rasulullah)
– Darimana Hammam bin Munabbih mengetahui konten (tata cara shalat)? Apakah dari wujud fisik buku yang ditulis oleh Abu Hurairah? Tidak, ia melihat dari mata kepala sendiri, kemudian menuliskannya…
– Dengan mendeskripsikan tata cara tersebut dalam bentuk tulisan, maka perbuatan (tata cara shalat) itu tercatat dalam shahifah Hammam bin Munabbih.

Apakah tulisan mengenai sesuatu sama dengan perbuatan itu sendiri?
Apakah sama antara jari yang menunjuk ke bulan dengan bulan itu sendiri?

Tulisan hanyalah cara untuk menunjukkan kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri…

Tulisan diperlukan ketika tidak ada lagi cara lain untuk mengetahui kebenaran (pada zaman kita)…
Tulisan diperlukan untuk menjelaskan sesuatu yang wajib ditaati, yaitu contoh Rasul

Basis dari hadits (seperti yang sudah saya sertakan) bukan cuma dari ‘katanya’, bahkan berita yang hanya berlandaskan pada ‘katanya’/pesan/washiyah justru ditolak oleh Bukhari.
Memang, kalau antum memandang hadits sebagai sesuatu yang mengcapture contoh dari Rasulullah, maka hadits memang tidak diperlukan…
Karena yang diperlukan itu adalah mengikuti contoh Rasulullah. Lewat apa? Lewat Hadits….

2. Pertanyaan apa dasarnya menjadikan hadits sebagai sumber hukum dalam Islam…

Cukuplah ayat-ayat berikut menjadi jawaban bagi mereka (kan mereka mengaku hanya mengambil hukum dari Al-Quran….;) )

4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
42:38. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
8:46. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
3:110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,..
21:107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Sekian… Ada tambahan?

wassalamu’alaikum wr wb