Hukum Menerjemahkan al-Qur’an
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Menerjemahkan al-Qur’an secara harfiah (Letterleijt) menurut kebanyakan ulama merupakan hal yang mustahil mengingat penerjemahan semacam ini memerlukan beberapa persyaratan yang tidak mungkin dapat direalisasikan, yaitu:

1. Adanya mufradaat (sinonim) per-hurufnya antara bahasa penerjemah dan bahasa yang akan diterjemahkan

2. Adanya tanda baca yang sama pada bahasa penerjemah terhadap tanda baca pada bahasa yang diterjemahkan atau paling tidak mirip

3. Di dalam susunan katanya harus ada kesamaan antara kedua bahasa baik dalam kalimat, sifat atau pun tambahan-tambahannya. Sebagian ulama mengatakan bahwa menerjemahkan secara harfiah bisa terealisasi pada sebagian ayat atau semisalnya akan tetapi sekali pun demikian ia tetap diharamkan sebab tidak mungkin berfungsi menjadi makna yang sempurna apalagi memiliki pengaruh terhadap jiwa sebagaimana pengaruh al-Qur’an dalam bahasa Arab yang begitu jelas. Karena itu, tidak perlu menggunakan cara seperti ini karena sudah cukup dengan penerjemahan secara maknanya saja.

Berdasarkan hal ini, maka sekali pun menurut perasaan penerjemahan secara harfiah dapat dimungkinkan pada seabagian kata-kata akan tetapi menurut syari’at ia tetap dilarang, kecuali bila memang dapat menerjemahkan satu kata khusus dengan bahasa orang yang diajak bicara agar ia memahaminya dengan tanpa menerjemahkan semua susunannya, maka ketika itu tidak apa-apa.

Sedangkan hukum penerjemahan secara makna terhadap al-Qur’an pada dasarnya adalah dibolehkan karena tidak ada larangannya, bahkan terkadang bisa jadi wajib ketika ia merupakan satu-satunya sarana untuk menyampaikan al-Qur’an dan al-Islam kepada selain bangsa Arab, sebab menyampaikan hal itu adalah wajib hukumnya, maka sesuai kaidah, ‘Maa laa yatimmul waajib illa bihii fa huwa waajib’ (suatu tindakan hukumnya wajib jika menjadi syarat terpenuhinya suatu kewajiban)

Akan tetapi agar hal itu dibolehkan, diperlukan beberapa syarat, yaitu:

Pertama, Bahwa terjemahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengganti al-Qur’an dengan cukup dengannya tanpa al-Qur’an. Berdasarkan hal ini, maka harus ditulis dulu teks al-Qur’an dalam bahasa Arabnya, kemudian di sampingnya teks terjemahan tersebut agar menjadi semacam tafsir terhadapnya.

Ke-dua, Hendaknya penerjemahnya adalah orang yang mengetahui betul arahan-arahan lafazh di dalam kedua bahasa tersebut dan hal-hal yang dituntut di dalam redaksinya.

Ke-tiga, Hendaknya penerjemahnya adalah orang yang mengetahui benar makna-makna lafazh-lafazh syari’at di dalam al-Qur’an.

Di dalam penerjemahan al-Qur’an al-Karim, hanya orang-orang yang amanah saja yang boleh diterima, yaitu seorang Muslim yang lurus di dalam diennya.

(SUMBER: Buku Ushuul Fi at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin, h.32-33)

Adab-Adab Membaca al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang memiliki kedudukan tersendiri di hati setiap Muslim. Ia merupakan kalamullah dan sebagai sumber hukum pertama bagi umat Islam.

Sebagai sebuah kitab suci yang memiliki keistimewaan, tentu patutlah bagi seorang Muslim untuk memuliakan dan menghormatinya, termasuk dalam sikap kita ketika ingin membacanya.
Nah, apakah adab-adabnya? Silahkan menyimak!!

Banyak sekali adab-adab yang harus diperhatikan ketika membaca al-Qur’an, di antaranya:

1. Ikhlash atau menuluskan niat karena Allah semata. Ini merupakan adab yang paling penting di mana suatu amal selalu terkait dengan niat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya semua amalan itu tergantung niat-niatnya dan setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya…” (HR.al-Bukhari, kitab Bad’ul Wahyi, Jld.I, hal.9)

Karena itu, wajib mengikhlashkan niat dan memperbaiki tujuan serta menjadikan hafalan dan perhatian terhadap al-Qur’an demi-Nya, menggapai surga-Nya dan mendapat ridla-Nya.

Siapa saja yang menghafal al-Qur’an atau membacanya karena riya’, maka ia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga orang yang pertama kali menjalani penyidangan pada hari Kiamat nanti…[Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian menyebutkan di antaranya]…dan seorang laki-laki yang belajar ilmu lalu mengajarkannya, membaca al-Qur’an lalu ia dibawa menghadap, lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka ia pun mengetahuinya, lalu Dia ta’ala berkata, ‘Untuk apa kamu amalkan itu.?” Ia menjawab, ‘Aku belajar ilmu untuk-Mu, mengajarkannya dan membaca al-Qur’an.’ Lalu Allah berkata, ‘Kamu telah berbohong akan tetapi hal itu karena ingin dikatakan, ‘ia seorang Qari (pembaca ayat al-Qur’an).’ Dan memang ia dikatakan demikian. Kemudian ia dibawa lalu wajahnya ditarik hingga dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR.Muslim, Jld.VI, hal.47)

Manakala seorang Muslim menghafal dan membaca al-Qur’an semata karena mengharapkan keridlaan Allah, maka ia akan merasakan kebahagian yang tidak dapat ditandingi oleh kebahagiaan apa pun di dunia.

2. Menghadirkan hati (konsentrasi penuh) ketika membaca dan berupaya menghalau bisikan-bisikan syetan dan kata hati, tidak sibuk dengan memain-mainkan tangan, menoleh ke kanan dan ke kiri dan menyibukkan pandangan dengan selain al-Qur’an.

3. Mentadabburi (merenungi) dan memahami apa yang dibaca, merasakan bahwa setiap pesan di dalam al-Qur’an itu ditujukan kepadanya dan merenungi makna-makna Asma Allah dan sifat-Nya.

4. Tersentuh dengan bacaan. Imam as-Suyuthi rahimahullah berkata, “Dianjurkan menangis ketika membaca al-Qur’an dan berupaya untuk menangis bagi yang tidak mampu (melakukan yang pertama-red.,), merasa sedih dan khusyu’.” (Al-Itqan, Jld.I, hal.302)

5. Bersuci. Maksudnya dari hadats besar, yaitu jinabah dan haidh atau nifas bagi wanita.
Al-Qur’an merupakan zikir paling utama. Ia adalah kalam Rabb Ta’ala. Karena itu, di antara adab membacanya, si pembaca harus suci dari hadats besar dan kecil. Ia dianjurkan untuk berwudhu sebelum membaca. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.” ([size=1[Shahih al-Jaami’, no.7657[/size])

Perlu diketahui, bahwa seseorang boleh membaca al-Qur’an asalkan tidak sedang berhadats besar, demikian pula disunnahkan baginya untuk mencuci mulut (menggosok gigi-red.,) dengan siwak sebab ia membersihkan mulut sedangkan mulut merupakan ‘jalan’ al-Qur’an.

6. Sebaiknya, ketika membaca al-Qur’an, menghadap Qiblat sebab ia merupakan arah yang paling mulia, apalagi sedang berada di masjid atau di rumah. Tetapi bila tidak memungkinkan, baik karena ia berada di kios, mobil atau sedang bekerja, maka tidak apa membaca al-Qur’an sakali pun tidak menghadap Qiblat.

7. Disunnahkan bagi seseorang untuk ber-ta’awwudz (berlindung) kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu membaca al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98)

8. Memperindah suaranya ketika membaca al-Qur’an sedapat mungkin. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara-suara kamu sebab suara yang bagus membuatnya bertambah bagus.” (dinilai shahih oleh al-Albani, Shahih al-Jaami’, no.358)

“Disunnahkan memperbagus dan menghiasi suara dengan al-Qur’an… Terdapat banyak hadits yang shahih mengenai hal itu. Jika seseorang suaranya tidak bagus, maka ia boleh memperbagus semampunya asalkan jangan keluar hingga seperti karet (dilakukan secara tidak semestinya dan menyalahi kaidah tajwid).” (Al-Itqaan, Jld.I, hal.302)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak bersenandung dengan al-Qur’an (melantunkannya dengan bagus).” (Shahih al-Bukhari, Jld.XIII, hal.501, bab at-Tauhid, no.7527)
Hendaknya pembaca al-Qur’an membaca sesuai dengan karakternya, tidak menyusah-nyusahkan diri (dibuat-buat) dengan cara menaklid salah seorang Qari atau dengan intonasi-intonasi tertentu sebab hal itu dapat menyibukkan dirinya dari mentadabburi dan memahaminya serta menjadikan seluruh keinginannya hanya pada mengikuti orang lain (taqlid) saja.

9. Membaca dengan menggunakan mushaf. Hal ini dikatakan oleh as-Suyuthi, “Membaca dengan menggunakan mushaf lebih baik dari pada membaca dari hafalan sebab melihatnya merupakan suatu ibadah yang dituntut.” (Al-Itqaan, Jld.I, hal.304)

Hanya saja, Imam an-Nawawi dalam hal ini melihat dari aspek kekhusyu’an; bila membaca dengan menggunakan mushaf dapat menambah kekhusyu’an si pembaca, maka itu lebih baik. Demikian pula, bila bagi seseorang yang tingkat kekhusyu’an dan tadabburnya sama dalam kondisi membaca dan menghafal; ia boleh memilih membaca dari hafalan bila hal itu menambah kekhusyu’annya.

Di antara hal yang perlu diperhatikan di sini, hendaknya seorang pembaca, khususnya bagi siapa saja yang ingin menghafal, untuk memilih satu jenis cetakan saja sehingga hafalannya lebih kuat dan mantap.

Demikian pula, hendaknya ia menghormati mushaf dan tidak meletakkannya di tanah/lantai, tidak pula dengan cara melempar kepada pemiliknya bila ingin memberinya. Tidak boleh menyentuhnya kecuali ia seorang yang suci.

10. Membaca di tempat yang layak (kondusif) seperti di masjid sebab ia merupakan tempat paling afdhal di muka bumi, atau di satu tempat di rumah yang jauh dari penghalang, kesibukan dan suara-suara yang dapat mengganggu untuk melakukan tadabbur dan memahaminya. Karena itu, ia tidak seharusnya membacakan al-Qur’an di komunitas yang tidak menghormati al-Qur’an.

(SUMBER : Silsilah Manaahij Dauraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah –fi’ah an-Naasyi’ah- al-Hadits karya Dr Ibrahim bin Sulaiman al-Huwaimil, hal.21-25)

TA’ARUDL DALAM AL-QURA’N
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Ta’arudl adalah pertentangan antara dua ayat, yaitu keterangan dari dua kedua ayat tersebut saling berlawanan antara yang satu dengan yang lain, misalnya ada satu ayat yang menetapkan tentang sesuatu, sedangkan ada ayat lain yang menafikkan hal tersebut.

Dan tidak mungkin terjadi ta’arudl antara dua ayat yang sifatnya khabar (keterangan), karena konsekuensi dari ta’arudl pada ayat khabar itu harus ada salah satu dari ayat tersebut yang bohong, dan hal itu mustahil terdapat dalam khabar-khabar Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ حَدِيثاً

”Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (QS. An-Nisaa’ : 87).

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ قِيلاً

”Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (QS. An-Nisaa’ : 122).

Dan tidak mungkin terdapat pertentangan antara dua ayat yang mengandung masalah hukum, karena ayat yang dating terakhir berfungsi sebagai nasikh (penghapus) terhadap ayat yang dating sebelumnya. Allah ta’ala berfirman :

مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا

”Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan (manusia) melupakannya, Kami mendatangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya” (QS. Al-Baqarah : 106).

Dan jika nasakh (penghapusan) telah ditetapkan, maka hokum pertama tidak berlaku lagi dan tidak bertentangan dengan hokum yang datang sesudahnya.

Dan apabila kamu melihat adanya ta’arudl dalam masalah tersebut, maka cobalah kompromikan antara kedua nash tersebut. Jika hal ini tidak bias kamu lakukan, maka wajib atasmu untuk tawaqquf (diam) dan menyerahkan urusan tersebut kepada ahlinya (orang yang lebih berkompeten).

Para ulama rahimahullah telah menyebutkan banyak contoh tentang masalah ta’arudl, mereka menjelaskan bagaimana cara untuk mengkompromikannya. Dan kitab yang paling bagus membahas masalah ini adalah kitab Daf’u Ihamil-Idlthirab ‘an Ayil-Kitab karya Syaikh Muhammad Alin Asy-Syinqithi rahimahullah. Di bawah ini contoh masalah ta’arudl dan cara untuk mengkompromikannya seperti berikut :

هُدًى لّلْمُتّقِينَ

”Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah : 2).

Dan firman Allah ta’ala :

شَهْرُ رَمَضَانَ الّذِيَ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لّلنّاسِ

”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia” (QS. Al-Baqarah : 185).

Allah ta’ala menjadikan hidayah (petunjuk) Al-Qur’an dalam ayat yang pertama adalah khusus bagi orang-orang yang bertaqwa, sedangkan pada ayat kedua berlaku umum bagi manusia. Dan al-jam’u (kompromi) dari kedua ayat tersebut adalah bahwa hidayah pada ayat pertama adalah hidayah taufiq wal-intifa’ (hidayah taufik dan hidayah untuk mengambil manfaat). Sedangkan hidayah pada ayat kedua adalah hidayah tabyin wal-irsyad (hidayah penjelasan dan bimbingan).

 

TA’ARUDL DALAM AL-QURA’N (2)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

………sambungan……..

Dan contoh lain yang semisal dengan kedua ayat di atas adalah firman Allah ta’ala tentang Rasul-Nya berikut ini :

إِنّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـَكِنّ اللّهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ

”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Qashshash : 56).

Dan firman-Nya :

وَإِنّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَىَ صِرَاطٍ مّسْتَقِيمٍ

”Dan sesungguhnya engkau benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Mukminuun : 73).

Maksud hidayah pada ayat pertama adalah hidayah taufiq, sedangkan hidayah pada ayat kedua adalah hidayah tabyin.

Dan contoh yang lain dalam firman Allah ta’ala :

شَهِدَ اللّهُ أَنّهُ لاَ إِلَـَهَ إِلاّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ

”Allah menyatakan bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)” (QS. Ali Imran : 18).

Dan firman-Nya :

وَمَا مِنْ إِلَـَهٍ إِلاّ اللّهُ

”Dan tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah” (QS. Ali Imran : 62)

Dan firman-Nya :

وَلاَ تَدْعُ مَعَ اللّهِ إِلَـَهاً آخَرَ

”Janganlah kamu sembah, disamping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain” (QS. Al-Qashshash : 88).

Dan firman-Nya :

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ مِن شَيْءٍ لّمّا جَآءَ أَمْرُ رَبّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

”Karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka” (QS. Huud : 101).

Pada dua ayat yang pertama dinafikkan Uluhiyyah kepada selain Allah ta’ala, sedangkan pada dua ayat berikutnya di-itsbat-kan (ditetapkan) uluhiyyah kepada selain Allah ta’ala.

Dan kompromi dari ayat-ayat tersebut adalah bahwa Uluhiyyah yang khusus bagi Allah ‘azza wa jalla yaitu Uluhiyyah yang haq (benar). Dan bahwa istbat (penetapan) Uluhiyyah bagi selain-Nya yaitu Uluhiyyah yang bathil, berdasarkan firman Allah ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنّ اللّهَ هُوَ الْحَقّ وَأَنّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنّ اللّهَ هُوَ الْعَلِيّ الْكَبِيرُ

”(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Ilah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yangbathil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Al-Hajj : 62).

Dan di antara contoh lain adalah firman Allah ta’ala :

قُلْ إِنّ اللّهَ لاَ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ

”Katakanlah : Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) peruatan yang keji” (QS. QS. Al-A’raf : 28).

Dan firman-Nya :

وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمّرْنَاهَا تَدْمِيراً

”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS. Al-Israa’ : 16).

Pada ayat pertama menunjukkan bahwa Allah ta’ala melarang perbuatan keji, sedangkan pada teks ayat kedua menunjukkan bahwa Allah ta’ala membiarkan atas kefasikan.

Kompromi dari kedua ayat tersebut adalah bahwa perintah pada ayat pertama yaitu perintah syar’i, dan Allah tidak memerintahkan untuk berbuat kekejian secara syar’i berdasarkan firman-Nya :

إِنّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَىَ وَيَنْهَىَ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebaikan, memberikan kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, munkar, dan permusuhan” (QS. An-Nahl : 90).

Sedangkan pada ayat kedua yaitu perintah kauni (sebab akibat), dan Allah ta’ala secara kauni menetapkan kepada apa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan ketetapan-Nya dan hikmah-Nya, berdasarkan firman-Nya :

إِنّمَآ أَمْرُهُ إِذَآ أَرَادَ شَيْئاً أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

”Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah”, maka terjadilah ia” (QS. Yaasiin : 82).

Bagi yang ingin untuk memperdalam tentang masalah ini beserta contoh-contohnya, hendaklah merujuk pada kitab Daf’u Ihamil-Idlthirab ‘an Ayil-Kitab karya Asy-Syinqithi rahimahullah.

 

Pembagian Al-Qur’an Ditinjau dari Muhkamat dan Mutasyabihaat
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Al-Qur’an Al-karim ditinjau dari muhkamat dan mutasyabihaat dibagi menjadi tiga macam :

1. Muhkamaat (ihkam) yang umum yang menjadi karakteristik isi Al-Qur’an secara umum, seperti firman-Nya :

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمّ فُصّلَتْ مِن لّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

”(Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu” (QS. Huud : 1).

Dan Firman-Nya :

الَر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

”Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah” (QS. Yunus : 1)

Dan firman-Nya :

وَإِنّهُ فِيَ أُمّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيّ حَكِيمٌ

”Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu di dalam induk Al-Kitab Lauh Mahfudh di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah” (QS. Az-Zukhruf : 4).

Makna Al-Ihkam (muhkamat) di sini adalah indah dan rapi baik dalam lafadh maupun maknanya, gaya bahasa dan uslubnya sangat fasih, semua khabarnya sarat dengan kebenaran dan manfaat, tidak mengandung unsure kedustaan, pertentangan, dan hal yang tidak bermanfaat. Hukum-hukumnya sarat dengan nilai keadilan, hikmah, bebas dari kepalsuan dan pertentangan, serta tidak ada hokum yang diskriminatif.

2. Tasyabbuh (mutasyabih) yang umum, yang menjadikan kharakteristik isi Al-Qur’an secara umum, seperti firman Allah ta’ala :

اللّهُ نَزّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مّتَشَابِهاً مّثَانِيَ تَقْشَعِرّ مِنْهُ جُلُودُ الّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبّهُمْ ثُمّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىَ ذِكْرِ اللّهِ

”Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah” (QS. Az-Zumar : 23).

Makna Tasyabuh di sini adalah keseluruhan kandungan Al-Qur’an, bagian yang satu dengan yang lainnya serupa dalam hal kesempurnaan, keindahan, dan tujuan-tujuan yang terpuji.

أَفَلاَ يَتَدَبّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

”Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa : 82)

3. Muhkam yang khusus pada sebagian ayat Al-Qur’an dan Tasyabuh yang khusus pada sebagian yang lainnya, seperti firman Allah ta’ala :

هُوَ الّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مّحْكَمَاتٌ هُنّ أُمّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمّا الّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاّ اللّهُ وَالرّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنّا بِهِ كُلّ مّنْ عِندِ رَبّنَا وَمَا يَذّكّرُ إِلاّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

”Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Allah Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS. Aali Imran : 7).

Dan makna Al-Ihkam di sini adalah bahwa makna ayat sudah terang dan jelas, tidak ada hal yang tersembunyi atau kesamaran di dalamnya, seperti firman Allah ta’ala :

يَأَيّهَا النّاسُ إِنّا خَلَقْنَاكُم مّن ذَكَرٍ وَأُنْثَىَ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوَاْ

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (QS. Al-Hujuraat : 13).

Dan firman Allah ta’ala :

يَاأَيّهَا النّاسُ اعْبُدُواْ رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ وَالّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلّكُمْ تَتّقُونَ

”Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-baqarah : 21).

Dan firman-Nya ta’ala :

وَأَحَلّ اللّهُ الْبَيْعَ

”Padahal Allah telah menghalalkan jual beli” (QS. Al-Baqarah : 275).

Dan firman-Nya :
ِ
حُرّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلّ لِغَيْرِ اللّهِ بِه

”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…..” (QS. Al-Maidah : 3).

Dan masih banyak contoh yang lain.

Makna Tasyabuh di sini adalah bahwa makna dalam ayat mengandung kesamaran, sehingga dimungkinkan ada orang yang menafsiri dan memahami ayat tersebut dengan pemahaman yang tidak layak bagi Allah ta’ala, kitab-Nya, atau Rasul-Nya; sedangkan orang-orang ‘alim dan kokoh ilmunya akan dapat memahami ayat tersebut dengan benar.

Sebagai contoh pemahaman salah atas firman Allah ta’ala berikut :

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

”Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64).

Ayat ini dipahami bahwa Allah ta’ala mempunyai dua tangan seperti tangan-tangan yang dimiliki oleh makhluk.

Dan juga contoh yang berkaitan dengan Kitabullah, yaitu pemahaman yang mengatakan dalam Al-Qur’an itu terjadi pertentangan dan saling mendustakan antara ayat satu dengan yang lainnya, ketika Allah ta’ala berfirman :

مّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيّئَةٍ فَمِن نّفْسِكَ

”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah. Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. An-Nisaa’ : 79).

Dan Allah ta’ala berfirman pada ayat lain :

وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُواْ هَـَذِهِ مِنْ عِندِ اللّهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيّئَةٌ يَقُولُواْ هَـَذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ كُلّ مّنْ عِندِ اللّهِ

Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata : “Ini adalah dari sisi Allah”; dan kalau mereka dirimpa bencana mereka berkata : “Ini (datangnya) dari sisimu (Muhammad)”. Katakanlah : “Semuanya (datang) dari sisi Allah” (QS. An-Nisaa’ : 78).

Dan contoh yang berkaitan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yaitu salahnya pemahaman tentang firman Allah ta’ala :

فَإِن كُنتَ فِي شَكّ مّمّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكَ لَقَدْ جَآءَكَ الْحَقّ مِن رّبّكَ فَلاَ تَكُونَنّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

”Maka jika kamu (Muhammad) dalam keragu-raguan terhadap apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyalah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelummu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Allah, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. Yunus : 94).

Ayat tersebut di atas dipahami bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ragu atas wahyu yang diturunkan kepadanya.

 

SIKAP ORANG-ORANG YANG KOKOH ILMUNYA DAN ORANG YANG CONDONG KEPADA KESESATAN TERHADAP AYAT MUTASYAABIHAAT

Sesungguhnya sikap orang-orang yang kokoh ilmunya dan sikap orang-orang yang condong kepada kesesatan terhadap ayat-ayat mutasyaabihaat telah dijelaskan oleh Allah ta’ala.

Tentang orang yang condong kepada kesesatan Dia ta’ala berfirman :

فَأَمّا الّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

”Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya” (QS. Aali Imran : 7).

Tentang orang-orang yang kokoh ilmunya Dia ta’ala berfirman :

وَالرّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنّا بِهِ كُلّ مّنْ عِندِ رَبّنَا

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Allah Rabb kami”. (QS. Aali Imran : 7).

Jadi, orang-orang yang condong kepada kesesatan itu mengambil sebagian ayat-ayat mutasyaabihaat ini sebagai sarana dan alat untuk mencela Kitabullah dan membuat fitnah bagi manusia dan menta’wilnya dengan pena’wilan yang tidak sesuai dengan maksud (kehendak) Allah dalam ayat tersebut. Maka mereka itu adalah golongan yang sesat dan menyesatkan.

Adapun orang-orang yang kokoh ilmunya, maka mereka beriman bahwa apa yang terdapat dalam Kitabullah adalah benar dan tidak ada perselisihan dan pertentangan antara ayat yang satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an itu datang dari Allah ta’ala.

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

”Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa’ : 82).

Adapun terhadap ayat-ayat yang mutasyaabihaat, mereka mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkamat agar seluruhnya menjadi muhkamaat.

Pada contoh pertama mereka (orang yang kokoh ilmunya lagi mendapat petunjuk) mengatakan : Sesungguhnya Allah ta’ala mempunyai dua tangan yang hakiki sesuai dengan kemuliaan-Nya dan keagungan-Nya, kedua tangan-Nya tidak seperti tangan makhluk, sebagaimana Dia mempunyai Dzat yang tidak seperti dzat-dzat para makhluk; karena Allah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السّمِيعُ الْبَصِيرُ

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia – dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuuraa : 11).

Dan pada contoh yang kedua mereka mengatakan : Sesungguhnya kebaikan dan keburukan semuanya terjadi dengan taqdir Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi kebaikan itu sebabnya adalah karunia dari Allah ta’ala atas hamba-hamba-Nya, sedangkan sebab keburukan itu datang dari perbuatan hamba itu sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِيرٍ
”Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan akibat perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Yunus : 104).

Jadi, disandarkankannya keburukan kepada hamba merupakan bentuk penyandaran atas sesuatu kepada sebabnya, bukan penyandaran kepada yang mentaqdirkannya. Sedangkan disandarkannya kebaikan dan keburukan kepada Allah ta’ala, adalah merupakan bentuk penyandaran atas sesuatu kepada yang mentaqdirkannya. Dengan demikian, maka hilanglah apa yang dianggap bertentangan antara dua ayat tersebut.

Tentang contoh yang ketiga mereka berkata : Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak merasa ragu sedikitpun tentang wahyu yang diturunkan kepadanya. Bahkan beliau adalah manusia yang paling mengetahui dan paling kuat keyakinannya tentang semua itu, sebagaimana firman Allah ta’ala :

قُلْ يَأَيّهَا النّاسُ إِن كُنتُمْ فِي شَكّ مّن دِينِي فَلاَ أَعْبُدُ الّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ

Katakanlah : “Hai manusia, jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah” (QS. Yunus : 104).

Maknanya : Jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang agama, maka aku berada dalam keyakinan tentangnya. Oleh sebab itu aku tidak akan menyembah orang-orang yang kamu sembah selain Allah. Bahkan aku mengkufuri mereka dan aku menyembah Allah.

Dan firman Allah ta’ala :

فَإِن كُنتَ فِي شَكّ مّمّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ

”Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu” (QS. Yunus : 94).

Dari ayat di atas tidaklah mesti diartikan bahwa keraguan itu diperbolehkan bagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam atau keraguan itu menimpa beliau. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah ta’ala :

قُلْ إِن كَانَ لِلرّحْمَـَنِ وَلَدٌ فَأَنَاْ أَوّلُ الْعَابِدِينَ

”Katakanlah : Jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)” (QS. Az-Zukhruf : 81).

Apakah hal ini berarti keberadaan anak itu boleh bagi Allah atau Allah mempunyai anak? Sekali-kali tidak! Ini tidak bisa didapati dan tidak dibolehkan atas Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا يَنبَغِي لِلرّحْمَـَنِ أَن يَتّخِذَ وَلَداً * إِن كُلّ مَن فِي السّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلاّ آتِي الرّحْمَـَنِ عَبْداً

Dan tidak layak bagi Allah Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (QS. Maryam : 92-93).

Dan dari firman Allah ta’ala :

فَلاَ تَكُونَنّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. Al-Baqarah : 147).

Hal ini bukan berarti keraguan menimpa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena larangan terhadap sesuatu kadang-kadang ditujukan kepada orang yang tidak terjerumus ke dalam hal itu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah ta’ala :

وَلاَ يَصُدّنّكَ عَنْ آيَاتِ اللّهِ بَعْدَ إِذْ أُنزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَىَ رَبّكَ وَلاَ تَكُونَنّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

”Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, setelah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Rabb-mu dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” (QS. Al-Qashshash : 87).

Dan yang sudah dimaklumi bahwa mereka tidak menghalangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari ayat-ayat Allah, dan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak terjerumus kepada kesyirikan. Adapun tujuan ditujukannya larangan kepada orang yang tidak terkerumus kepada kesyirikan tersebut adalah sebagai kecaman dan peringatan dari orang-orang yang terjerumus dan sepak terjang mereka. Dengan demikian, hilanglah kesamaran dan sangkaan yang tidak patut ditujukan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

 

MACAM-MACAM TASYABBUH DALAM AL-QUR’AN

Tasyabbuh (kesamaran) yang terdapat dalam Al-Qur’an ada dua macam, yaitu :

1. Tasyabbuh Hakiki, yaitu hal-hal yang tidak mungkin diketahui oleh manusia, seperti hakikat shifat-shifat Allah ‘azza wa jalla. Jadi, meskipun kita bisa mengetahui makna-makna dari shifat-shifat tersebut, akan tetapi kita tidak memahami hakikat dan kaifiyahnya, berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَلاَ يُحِيطُونَ بِهِ عِلْماً

”Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya” (QS. Thaahaa : 110).

Dan firman Allah ta’ala :

لاّ تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللّطِيفُ الْخَبِيرُ

”Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’aam : 103).

Oleh sebab itu, ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang firman Allah ta’ala :

الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ

”(Yaitu)Allah Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaahaa : 5).

Bagaimana Allah beristiwa’ (bersemayam) ?; maka beliau (Imam Malik) menjawab :
الإستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

”Istiwa’ itu tidak asing lagi, dan kaifiyahnya tidak diketahui oleh akal. Beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”.

Hal semacam ini tidak boleh ditanyakan tentang penjabarannya karena ada halangan untuk sampai kepada (jawaban)nya.

2. Tasyabbuh Nisbi; yaitu hal-hal yang tersamar bagi sebagian manusia, tetapi tidak samar bagi sebagian yang lain. Jadi, hal tersebut dapat dipahami oleh orang-orang yang kokoh ilmunya, tetapi tidak bisa dipahami oleh selain mereka. Hal semacam ini boleh ditanyakan penjabarannya dan penjelasannya, karena memungkinkan untuk sampai kepada (jawaban)nya. Sebab tidak ada sesuatupun di dalam Al-Qur’an ayat yang tidak dapat dipahami oleh anak manusia. Allah ta’ala berfirman :

هَـَذَا بَيَانٌ لّلنّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لّلْمُتّقِينَ

”(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Aali Imran : 138).

Dan Dia berfirman :

وَنَزّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لّكُلّ شَيْءٍ

”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS. An-Nahl : 89).

Dan Dia berfirman :

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتّبِعْ قُرْآنَهُ * ثُمّ إِنّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

”Apabila Kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya” (QS. Al-Qiyaamah : 18-19).

Dan firman-Nya :

يَا أَيّهَا النّاسُ قَدْ جَآءَكُمْ بُرْهَانٌ مّن رّبّكُمْ وَأَنْزَلْنَآ إِلَيْكُمْ نُوراً مّبِيناً

”Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu petunjuk dari Rabb-mu, dan Kami menurunkan kepadamu cahaya yang terang” (QS. An-Nisaa’ : 174).

Dan contoh semacam ini banyak sekali, diantaranya adalah :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السّمِيعُ الْبَصِيرُ

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia – dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuuraa : 11).

Hal itu membuat samar bagi ahli Ta’thil, sehingga mereka memahami ayat tersebut sebagai penafian sifat-sifat bagi Allah, dan mereka beranggapan bahwa itsbat (penetapan)nya akan berkonsekuensi kepada penyerupaan-Nya. Mereka berpaling dari ayat-ayat yang menunjukkan itsbat shifat bagi Allah ta’ala, karena itsbat (penetapan) dalam makna yang sama tidak berarti sebagai bentuk penyerupaan.

Dan diantaranya adalah firman Allah ta’ala :

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مّتَعَمّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً

”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS. An-Nisaa’ : 93).

Hal itu samar bagi orang-orang Wa’idiyyah (kaum Khawarij dan Mu’tazillah), sehingga mereka memahaminya bahwa orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja adalah kekal di dalam neraka, dan mereka menyamaratakan hukum tersebut bagi semua pelaku dosa besar. Dan mereka berpaling dari ayat-ayat yang menunjukkan bahwa semua dosa kecuali syirik adalah dalam kehendak Allah ta’ala (apakah Allah akan mengampuninya atau mengadzabnya).

Dan diantaranya adalah firman Allah ta’ala :

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السّمَآءِ وَالأرْضِ إِنّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرٌ

”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al-Hajj : 70).

Hal itu samar bagi orang-orang Jabriyyah, sehingga mereka memahaminya bahwa hamba itu dipaksa atas amal-amalnya, dan mereka menganggap bahwa dia (hamba itu) tidak mempunyai iradah (kehendak) dan tidak pula qudrah (kekuasaan) atasnya. Dan mereka berpaling dari ayat-ayat yang menunjukkan bahwa seorang hamba itu mempunyai iradah dan qudrah, dan bahwa perbuatan hamba itu ada dua macam, yaitu ikhtiyari (ada ikhtiyar bagi hamba) dan ghairu ikhtiyari (tidak ada ikhtiyat bagi hamba).

Sedangkan orang-orang yang kokoh ilmunya adalah orang-orang yang memiliki akal. Mereka mengetahui bagaimana mereka mengeluarkan ayat-ayat mutasyaabihaat ini kepada makna yang benar bersama ayat-ayat lain, sehingga seluruh Al-Qur’an itu muhkam (jelas), tidak ada kesamaran di dalamnya.

HIKMAH AYAT MUHKAMAAT DAN MUTASYAABIHAAT DALAM AL-QUR’AN

Seandainya seluruh ayat dalam Al-Qur’an itu muhkamat,maka luputlah hikmah ujian atas pembagian tersebut, baik secara pembenaran maupun amalan, karena telah jelas maknanya dan tidak ada kesempatan untuk menyimpang dengan berpegang teguh kepada ayat-ayat mutasyaabihaat untuk tujuan firnah dan mencari-cari takwilnya.

Dan seandainya seluruh Al-Qur’an itu mutasyaabihaat, maka luputlah fungsinya sebagai penjelasan dan petunjuk bagi manusia, serta tidak memungkinkan untuk mengamalkannya dan membangun aqidah yang lurus di atasnya.

Akan tetapi Allah – dengan hikmah-Nya – menjadikan Al-Qur’an sebagiannya ayat-ayat muhkamat yang kepadanyalah dikembalikan ketika terjadi kesamaran; dan sebagian lainnya ayat-ayat mutasyaabihaat sebagai batu ujian bagi para hamba supaya membedakan orang-orang yang jujur imannya dari orang-orang yang dalam hatinya ada kesesatan. Maka jika dia jujur atau benar imannya, dia akan mengetahui bahwa Al-Qur’an seluruhnya adalah dari sisi Allah ta’ala, sedangkan apa-apa yang datang dari sisi Allah itu pasti benar dan tidak mungkin di dalamnya ada kebathilan dan pertentangan berdasarkan firman Allah ta’ala :

لاّ يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

”Tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan baik dari depan dan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS. Fushshilat : 42).

Dan firman Allah ta’ala :

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

”Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa’ : 82).

Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan atau penyimpangan, maka mereka mengambil sebagian ayat-ayat mutasyaabihaat sebagai jalan untuk merubah yang muhkam dan mengikuti hawa nafsu dalam membuat keraguan tentang khabar-khabar dan menganggap berat atas hukum-hukum. Oleh karena itu kamu dapati kebanyakan orang yang menyimpang dalam hal aqidah dan amal, mereka itu berhujjah dengan ayat-ayat mutasyaabihaat ini.

Wallaahu A’lam

 

SUMPAH DALAM AL-QUR’AN
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Kata sumpah berasal dari bahasa Arab اْلقَسَمُ al-qasamu yang bermakna اْليَمِينُ al-yamiin yaitu menguatkan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan menggunakan huruf-huruf (sebagai perangkat sumpah) seperti wawu dan huruf lainnya.

Huruf-huruf yang berfungsi sebagai perangkat sumpah ada 3 macam :

1. Wawu ( و)

Seperti firman Allah ta’ala :

فَوَرَبّ السّمَآءِ وَالأرْضِ إِنّهُ لَحَقّ

Maka Demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi)” (QS. Adz-Dzariyaat : 23).

Dengan masuknya huruf wawu – sebagai huruf qasam – maka ’amil (pelaku)nya wajib dihapuskan. Dan setelah wawu harus diikuti dengan isim dlahir.

2. Ba’ ().

Seperti dalam firman Allah ta’ala :

لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

”Aku bersumpah dengan hari kiamat” (QS. Al-Qiyaamah : 1).

Dan dengan masuknya huruf Ba’ ini boleh disebutkan ’amil-nya sebagaimana contoh di atas, dan boleh juga menghapusnya, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang iblis :

قَالَ فَبِعِزّتِكَ لاُغْوِيَنّهُمْ أَجْمَعِينَ

”(Iblis) berkata : Maka Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Shaad : 82).

Setelah huruf Ba’ boleh diikuti isim dlahir sebagaimana telah dicontohkan di atas, dan boleh juga diikuti oleh isim dlamir, sebagaimana perkataan :

اللهُ رَبِّيْ وَبِهِ أَحْلِفُ لَيَنْصُرُنَّ اْلمُؤمنِيْنَ

”Allah Rabbku, dengan-Nya aku bersumpah sungguh Dia akan menolong orang-orang beriman”

3. Ta’ ( ت)

Seperti dalam firman Allah ta’ala :

تَاللّهِ لَتُسْأَلُنّ عَمّا كُنْتُمْ تَفْتَرُونَ

”Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang kamu ada-adakan” (QS. An-Nahl : 56).

Dengan masuknya huruf Ta’ ini, ’amil (pelaku)-nya harus dihapuskan dan tidak bisa diikuti sesudahnya kecuali isim jalalah (nama Allah), yaitu الله atau ربّ. Sebagaimana dalam perkataan :

وَرَبِّ اْلكَعْبَةِ لَأحَجَنَّ إِنْ شَآءَ اللهُ

”Demi Rabb Ka’bah, sungguh aku akan berhaji insyaAllah”

Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam bih (sesuatu yang dijadikan dasar atau landasan sumpah) itu disebutkan, sebagaimana pada contoh-contoh terdahulu. Dan kadang-kadang dihapus dengan ‘amil (pelaku)-nya. Bentuk yang seperti ini banyak sekali, misalnya dalam firman Allah ta’ala :

ثُمّ لَتُسْأَلُنّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takaatsur : 8).

Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam ‘alaih (sesuatuyang disumpahkan) disebutkan. Seperti dalam firman Allah :

قُلْ بَلَىَ وَرَبّي لَتُبْعَثُنّ

Katakanlah : “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan” (QS. At-Taghaabun : 7)

Dan kadang-kadang boleh dihapus, seperti dalam firman Allah ta’ala :

قَ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia” (QS. Qaaf : 1).

Dan takdirnya (kata yang tidak disebutkan) adalah لَيُهْلِكُنَّ , sehingga maknanya menjadi : “Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia, sungguh Dia pasti akan membinasakan”.

Dan kadang-kadang wajib dihapuskan apabila diawali atau didahului oleh faktor-faktor yang memperbolehkannya. Berkata Ibnu Hisyam dalam kitab Al-Mughni, dan dicontohkan dalam kaidah nahwu :

“Zaid sedang berdiri, demi Allah “ زَيْدٌ قَائِمٌ وَاللهِ

“Zaid, demi Allah, sedang berdiri” زَيْدٌ وَاللهِ قَائِمٌ

Sumpah memiliki 2 faedah, yaitu :

1. menjelaskan tentang agungnya al-muqsam bihi (yang dijadikan landasan atau dasar sumpah).
2. Menjelaskan tentang pentingnya al-muqsam ‘alaih (sesuatu yang disumpahkan) dan sebagai bentuk penguat atasnya. Oleh karena itu, tidaklah tepat bersumpah kecuali dalam keadaan berikut :

a. Hendaknya sesuatu yang disumpahkan (al-muqsam ‘alaih) itu adalah sesuatu yang penting
b. Adanya keraguan dari mukhaththab (orang yang diajak bicara)
c. Adanya pengingkaran dari mukhaththab (orang yang diajak bicara)

 

Israilliyyaat [1]
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Al-Israiliyyaat adalah berita-berita yang dinukil dari Bani Israil dari kalangan Yahudi dan Nashrani, namun secara umum berasal dari Bani Israil. Berita-berita ini dibagi menjadi 3 macam :

1. Berita yang dikuatkan oleh Islam dan diakui kebenarannya, maka berita itu dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Contohnya : Apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga perawi yang lainnya dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

جاء حبر من الأحبار إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا محمد إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إصبع والأرضين على إصبع والشجر على إصبع والماء والثرى على إصبع وسائر الخلائق على إصبع فيقول أنا الملك فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه تصديقا لقول الحبر ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم { وما قدروا الله حق قدره والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه سبحانه وتعالى عما يشركون }

“Telah datang seorang pendeta dari kalangan pendeta Yahudi kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia berkata : “Ya Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan langit-langit dengan satu jari, bumi-bumi dengan satu jari, pohon dalam satu jari, air dan tanah dengan satu jari, serta menjadikan seluruh makhluk dengan satu jari. Kemudian Dia berfirman : Aku adalah Malik (Raja)”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau membenarkan perkataan pendeta itu”, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat : “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Az-Zumar : 67).

2. Berita yang diingkari oleh Islam dan diakui kedustaannya, maka berita itu bathil

Contohnya : Apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir radliyallaahu ‘anhu, dia berkata :

كانت اليهود تقول إذا جامعها من ورائها جاء الولد أحول فنزلت { نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم }

Seorang Yahudi berkata : “Apabila menggaulinya (wanita) dari belakang, maka akanmelahirkan anak yang juling matanya”. Maka turunlah ayat : “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tempat bercocok tanammu itu bagaimana kamu kehendaki” (QS. Al-Baqarah : 223).

3. Berita yang tidak dikuatkan atau ditetapkan oleh Islam dan tidak diingkari, maka wajib tawaqquf (diam) tentangnya.

Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dia berkata : “AhliKItab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka menafsirkankannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata : “Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka”, katakanlah :

ءامنا بالذي أنزل إلينا وأنزل إليكم

Kami beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu (QS. Al-Ankabuut : 46).

Akan tetapi menceritakan berita Israiliyyat dari jenis ini adalah boleh apabila tidak dikhawatirkan ada bahayanya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Dan khabarkanlah (berita) dari Bani Israil dan jangan merasa berat. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka (HR. Bukhari).

Pada umumnya, apa-apa yang diriwayatkan dari mereka, berita-beritanya tidak memeliki faedah atau manfaat dalam agama, seperti penentuan warna anjing Ashhabul-Kahfi dan semisalnya.

Adapun bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu dari perkara-perkara agama adalah haram, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu, dia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, sesungguhnya mereka tidak akan dapat memberi kalian petunjuk, dan sungguh mereka itu telah sesat, maka sesungguhnya kalian mungkin akan membenarkan kebathilan atau mungkin mendustakan kebanaran. Sungguh seandainya Musa masih hidup di antara kalian, niscaya dia tidak menghalalkan dirinya kecuali untuk mengikutiku.

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdillah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwa dia berkata : “Wahai sekalian kaum muslimin, mengapa kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu padahal kitab kalian yang diturunkan Allah kepada Nabi kalian adalah kabar-kabar yang terbaru tentang Allah, yang murni, tidak tercampur atau ternodai, dan sesungguhnya Allah telah menceritakan kepada kalian bahwa ahli kitab itu telah mengganti kitabullah dan mereka merubahnya, kemudian mereka menulis dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka berkata : “Ini dari sisi Allah”; yang agar dengan hal itu mereka membeli atau menukarnya dengan harga yang sedikit, atau apa-apa yang datang pada kalian berupa ilmu tidak melarang kalian dari bertanya kepada mereka. Maka sekali-kali jangan! Demi Allah, kami tidak melihat seseorang diantara mereka bertanya kepada kalian tentang apa-apa yang diturunkan kepada kalian”.

Sikap Ulama terhadap Kisah Israiliyyat

Sikap para ulama, apalagi mufassir, berbeda-beda terhadap kisah-kisah Israiliyyat berbeda-beda, dan terbagi menjadi empat kelompok :

1. Sebagian mereka adalah orang yang memperbanyak kisah tersebut disertai dengan sanad-sanadnya; dan dia berpendapat bahwa dengan menyebutkan sanad-sanadnya, maka dia lepas tanggung jawabnya. Contohnya adalah : Ibnu Jarir Ath-Thabari.

2. Sebagian mereka adalah orang yang memperbanyak kisah-kisah tersebut dengan tanpa menyebutkan sanad-sanadnya. Maka dia seperti hathibu lail (pencari kayu bakar di malam hari), seperti : Al-Baghawi. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata tentang Tafsirnya : “Sesungguhnya dia (Al-Baghawi) meringkas dari Ats-Tsa’labi, akan tetapi dia mempertahankan hadits-hadits maudlu’ dan pendapat-pendapat yang bid’ah”. Dan beliau (Ibnu Taimiyah) berkata tentang Ats-Tsa’labi : “Sesungguhnya dia itu hathibul-lail, dia mneukil apa yang dia dapati pada kitab-kitab tafsir, baik yang shahih, dla’if, maupun maudlu’.

3. Sebagian mereka adalah orang-orang yang banyak menyebutkan kisah-kisah Israiliyyat dengan memberikan komentar dari apa yang disebutkan, apakah kisah itu dla’if atau mengingkarinya. Misalnya :Ibnu Katsir.

4. Dan sebagian mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam menolaknya, dan dia tidak menyebutkan sedikitpun kisah Israiliyyat yang dijadikannya sebagai tafsir bagi Al-Qur’an. Misalnya : Muhammad Rasyid Ridla.

 

ISRAILIYYAAT [2] 1

Umumnya ulama hadits mengkritik kitab-kitab tafsir dari segi periwayatan kisah-kisah israiliyyat. Kata ini berulang kali terdengar di telinga kita. Namun ironisnya beberapa orang hanya memiliki pemahaman yang terbatas pada kata ini.

Dari segi etimologi, Israiliyyat adalah bentuk plural/jamak dari kata إِسْرَائِيْلِيَّة (israaiiliyyah). Sebuah kata yang dinisbahkan kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam yang memiliki nama lain Israil. Menurut Ibnul-Jauzi, tidak ada nabi yang memiliki dua nama selain Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam dan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang memiliki beberapa nama sebagaimana keterangan hadits shahih. Namun pendapat Ibnul-Jauzi ini tidak mutlak benar, karena menurut beberapa orang ulama ada beberapa orang nabi yang memiliki nama lebih dari satu.

Ibnu Katsir dan lainnya menyebutkan bahwa penamaan Nabi Ya’qub ‘alaihis-salaam dengan Israil berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnadnya 2 dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu bahwa beberapa orang Yahudi mengunjungi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bertanya : “Tahukan kalian bahwa Israil itu sebenarnya adalah Nabi Ya’qub ?”. Mereka menjawab : “Ya, benar”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ya Allah, saksikanlah (pengakuan mereka)”. 3

Kata Israil terdiri dari dua kata. Beberapa orang ulama mengatakan bahwa kata pertama, yaitu “Isra” berasal dari bahasa Arab اْلإِسْرَاء (Al-Israa’ ) yang berarti hijrah (pindah) dan pergi. Kata yang kedua yaitu ئِيْل (Iil) berasal dari bahasa Ibrani yang berarti Allah ‘azza wa jalla. Menurut mereka, Nabi Ya’qub ‘alaihis-salaam pernah melakukan hijrah dan keluar dari kampung halamannya, sehingga beliau dinamakan Israil yang berarti orang yang hijrah menuju Tuhannya ‘azza wa jalla.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata Israil secara keseluruhan berasal dari bahasa Ibrani, tidak ada yang berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Ibrani, kata Isra berarti hamba, dan Iil berarti Allah. Jadi gabungan kedua kata tersebut bermakna hamba Allah.

Dari segi terminologi, Israiliyyat adalah kisah-kisah yang bersumber dari orang-orang Yahudi. Definisi ini diperluas lagi oleh mayoritas mufassir dan ahli hadits menjadi setiap kisah yang terdapat dalam buku-buku tafsir atau buku-buku biografi/sejarah yang tidak memiliki sumber. Kisah tersebut berisi penghinaan terhadap Tuhan dan para Nabi danhal-hal yang tidak mungkin diterima akal sehat berupa khurafat-khurafat yang berlebihan pada beberapa riwayat seperti riwayat tentang bentuk perahu Nabi Nuh ‘alaihis-salaam, tentara Nabi Sulaiman ‘alaihis-salaam, dan lain-lain.

————————–

1. Banyak diambil dari isi kitab Al-Israiliyyat fit-Tafsir wal-Hadits karya Dr. Muhammad Sayid Husain Adz-Dzahabi.

2. Sekedar pemberitahuan bahwa Imam Al-‘Iraqi pernah mengutip pernyataan As-Suyuthi dalam Tadribur-Rawi bahwa Imam Abu Dawud Ath-Thayalisi tidak pernah menulis kitab Musnad, melainkan murid-muridnyalah yang mengumpulkan hadits-hadits yang diriwayatkan darinya yang berasal dari Yusuf bin Habib (sehingga jadilah sebuah kitab Musnad).

3. Pada sanad hadits ini terdapat seorang perawi yang bernama Syahr bin Hausyab yang meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia adalah perawi yang masih diperdebatkan statusnya. Beberapa ulama memposisikan haditsnya pada derajat hasan. Namun Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Taqribut-Tahdzib, menyebutkan bahwa Syahr adalah perawi shaduq, namun sering melakukan kekeliruan dan meng-irsal-kan hadits. Di samping itu, Imam Muslim mengutip komentar Ibnu ‘Aun dalam Muqaddimah Kitab Shahihnya bahwa para ulama menuduh Syahr yang bukan-bukan. Atas dasar inilah, bagi ulama yang menganggap hadits Syahr adalah hasan ataupun shahih, hadits di atas merupakan hujjah baginya. Berbeda dengan ulama yang tidak memandangnya demikian, maka dia akan menolak hadits ini.

Dlamir (Kata Ganti) dalam Al-Qur’an [1]
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Makna Dlamir Secara Bahasa dan Istilah

Dlamir secara bahasa berasal dari kata الضُّمُور yang bermakna اْلهَزَال (kurus, kering) karena sangat sedikit jumlah hurufnya. Atau berasal dari kata اْلإضْمَار yang bermakna اْلإخْفَاء (sembunyi) karena keberadaannya selalu tersembunyi.

Secara istilah, dlamir adalah sesuatu yang dijadikan pengganti sebutan yang dhahir sebagai bentuk ringkasnya. Ada pula yang mendefinisikan bahwa dlamir adalah sesuatu yang menunjukkan hudlur (nampak) atau ghaib (tidak nampak) atas sesuatu bukan dari dzatnya.

Dlamir yang menunjukkan hudlur (nampak) ada dua macam :

1. Dlamir untuk Al-Mutakallim (orang yang berbicara – orang pertama). Contohnya adalah :

وَأُفَوّضُ أَمْرِيَ إِلَى اللّهِ

”Dan Aku menyerahkan urusanku kepada Allah” (QS. Al-Mukmin : 44).

2. Dlamir untuk Al-Mukhaththab (orang yang diajak bicara – orang kedua). Contohnya :

صِرَاطَ الّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

”(Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (QS. Al-Fatihah : 7).

Dua macam dlamir ini tidak butuh kepada marja’ (rujukan), sudah cukup dengan petunjuk nampaknya dlamir saja.

Dlamir yang menunjukkan kepada ghaib, yaitu dlamir yang digunakan dalam ghaib (kata ganti orang yang tidak ada), dan dia mesti memiliki marja’ (rujukan), sebagai kata ganti – yang ghaib – itu.

Pada dasrnya, hendaknya marja’ (rujukan) diletakkan lebih dahulu sebelum dlamir secara lafadh dan kedudukan, dan harus sesuai dengan dlamir secara lafadh dan makna 1. Contoh :

وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ

”Dan Nuh menyeru Rabb-nya” (QS. Huud : 45).

Dan kadang-kadang marja’ sudah dapat dipahami dari fi’il sebelumnya, misalnya :

اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتّقْوَىَ

”Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al-Maaidah : 8).

Kadang-kadang marja’ didahulukan secara lafadh, tapi tidak secara kedudukan. Misalnya :

وَإِذِ ابْتَلَىَ إِبْرَاهِيمَ رَبّهُ

”Dan ketika Rabbnya menguji Ibrahim” (QS. Al-Baqarah : 124).2

Dan kadang-kadang marja’ didahului oleh dlamir secara kedudukan, tapi tidak secara lafadh. Misalnya kalimat :

حَمَلَ كِتَابَهُ الطَّالِبُ

”Pelajar itu membawa kitabnya” 3

Dan kadang-kadang sudah dipahami dari susunan kalimat, misalnya :

وَلأبَوَيْهِ لِكُلّ وَاحِدٍ مّنْهُمَا السّدُسُ مِمّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُ وَلَدٌ

Maka dlamir tersebut kembali kepada mayit (orang yang meninggal), hal tersebut dipahami dari firman-Nya : مِمّا تَرَكَ (dari harta yang ditinggalkan).

Dan kadang-kadang dlamir tidak sesuai dengan maknanya, misalnya :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِن سُلاَلَةٍ مّن طِينٍ * ثُمّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مّكِينٍ

”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami menjadikannya saripati itu air mani” (QS. Al-Mukminuun : 12-13).

Maka dlamir tersebut kembali kepada اْلإنسان (manusia) ditinjau dari sisi lafadh. Padahal yang dijadikan sebagai nuthfah bukanlah manusia yang pertama tadi.

————
Catatan kaki :

1. Marja’ yaitu نُوْحٌ mendahului dlamir ( ه) secara lafadh, dan juga secara kedudukan karena نُوْحٌ adalah fa’il, karena pada dasarnya fa’il itu mengiringi atau mengikuti fi’il (kata kerja), baru kemudian maf’ul-bihi (objek) yaitu رَبَّهُ .

2. Marja’, yaitu Ibrahim mendahului dlamir ( ه) secara lafadh, tapi tidak secara kedudukan karena Ibrahim adalah maf’ul bihi, sedangkan رَبّهُ adalah fa’il-nya. Padahal seharusnya adalah ’amil, kemudian fa’il (pelaku), kemudian maf’ul bihi (objek).

3. Marja’ yaitu الطَّالِبُ didahului oleh dlamir secara kedudukan, karena الطَّالِبُ adalah fa’il dan كِتَابَ adalah maf’ul bihi-nya. Tapi tidak mendahului secara lafadh.