Pengertian al-Qur’an

Secara Bahasa (Etimologi)

Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) [keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Anda dapat menuturkan, Qoro-’a Qor’an Wa Qur’aanan (قرأ قرءا وقرآنا) sama seperti anda menuturkan, Ghofaro Ghafran Wa Qhufroonan (غفر غفرا وغفرانا). Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.*

Secara Syari’at (Terminologi)

Adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (al-Insaan:23)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2)

Allah ta’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia ta’ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesunggunya Kami-lah yang menunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benr-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9)

Oleh karena itu, selama berabad-abad telah berlangsung namun tidak satu pun musuh-musuh Allah yang berupaya untuk merubah isinya, menambah, mengurangi atau pun menggantinya. Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka kedoknya.

Allah ta’ala menyebut al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkahan, pengaruhnya dan universalitasnya serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.

Allah ta’ala berfirman, “Dan sesunguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.” (al-Hijr:87)

Dan firman-Nya, “Qaaf, Demi al-Quran yang sangat mulia.” (Qaaf:1)

Dan firman-Nya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad:29)

Dan firman-Nya, “Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka iktuilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (al-An’am:155)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (al-Waqi’ah:77)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan ) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang menjajakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang benar.” (al-Isra’:9)

Dan firman-Nya, “Kalau sekiranya kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu kaan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (al-Hasyr:21)

Dan firman-Nya, “Dan apabila diturunkan suatu surat, mka di antara mereak (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini.? ‘ Adapun orang-orang yang berimana, maka surat ini menambah imannya sedang mereka merasa gembira # Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (at-Taubah:124-125)

Dan firman-Nya, “Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya)…” (al-An’am:19)

Dan firman-Nya, “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang benar.” (al-Furqan:52)

Dan firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl:89)

Dan firman-Nya, “Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian* terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (al-Maa’idah:48)

Al-Qur’an al-Karim merupakan sumber syari’at Islam yang karenanya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus kepada seluruh umat manusia. Allah ta’ala berfirman,

Dan firman-Nya, “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (al-Furqaan:1)

Sedangkan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga merupakan sumber Tasyri’ (legislasi hukum Islam) sebagaimana yang dikukuhkan oleh al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (an-Nisa’:80)

Dan firman-Nya, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab:36)

Dan firman-Nya, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” (al-Hasyr:7)

Dan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran:31)

CATATAN KAKI:

* Maksudnya, al-Qur’an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab yang sebelumnya. (al-Qur’an dan terjemahannya, DEPAG RI)

(SUMBER: Ushuul Fii at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, hal.9-11)

Urgensi Kisah Dalam al-Qur’an

Definisi

Secara bahasa kata al-Qashash dan al-Qushsh maknanya mengikuti atsar (jejak/bekas). Sedangkan secara istilah maknanya adalah informasi mengenai suatu kejadian/perkara yang berperiodik di mana satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai).

Kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan kisah paling benar sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah.?” (QS.an-Nisa’/4:87). Hal ini, karena kesesuaiannya dengan realitas sangatlah sempurna.

Kisah al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik kisah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.” (QS.Yusuf/12:3). Hal ini, karena ia mencakup tingkatan kesempurnaan paling tinggi dalam capaian balaghah dan keagungan maknanya.

Kisah al-Qur’an juga merupakan kisah paling bermanfa’at sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Yusuf/12:111). Hal ini, karena pengaruhnya terhadap perbaikan hati, perbuatan dan akhlaq amat kuat.

Jenis-Jenis Kisah

Kisah al-Qur’an terbagi menjadi 3 jenis:

1. Kisah mengenai para nabi dan Rasul serta hal-hal yang terjadi antara mereka dan orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

2. Kisah mengenai individu-individu dan golongan-golongan tertentu yang mengandung pelajaran. Karenanya, Allah mengisahkan mereka seperti kisah Maryam, Luqman, orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya (seperti tertera dalam surat al-Baqarah/2:259), Dzulqarnain, Qarun, Ash-habul Kahf, Ash-habul Fiil, Ash-habul Ukhdud dan lain sebagainya.

3. Kisah mengenai kejadian-kejadian dan kaum-kaum pada masa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti kisah perang Badar, Uhud, Ahzab (Khandaq), Bani Quraizhah, Bani an-Nadhir, Zaid bin Haritsah, Abu Lahab dan sebagainya.

Beberapa Hikmah Penampilan Kisah

Hikmah yang dapat dipetik banyak sekali, di antaranya:

a. Penjelasan mengenai hikmah Allah ta’ala dalam kandungan kisah-kisah tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmat yang sempurna, maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).” (al-Qamar/54:4-5)

b. Penjelasan keadilan Allah ta’ala melalui hukuman-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya. Dalam hal ini, firman-Nya mengenai orang-orang yang mendustakan itu, “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfa’at sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan.” (QS. hud/11:101)

c. Penjelasan mengenai karunia-Nya berupa diberikannya pahala kepada orang-orang beriman. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.” (QS. Al-qamar/54:34)

d. Hiburan bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam atas sikap yang dilakukan orang-orang yang mendustakannya terhadapnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (QS.fathir/35:25-26)

e. Sugesti bagi kaum Mukminin dalam hal keimanan di mana dituntut agar tegar di atasnya bahkan menambah frekuensinya sebab mereka mengetahui bagaimana kaum Mukminin terdahulu selamat dan bagaimana mereka menang saat diperintahkan berjihad. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dari menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikian itulah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS.al-Anbiya’/21:88) Dan firman-Nya yang lain, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS.ar-Rum/30:47)

f. Peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat terus menerusnya mereka dalam kekufuran. Hal ini sebagaimana firman-Nyma, “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereak dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (QS.muhammad/47:10)

g. Menetapkan risalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebab berita-berita tentang umat-umat terdahulu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang ghaib yang Kmai wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (QS.Hud/11:49) Dan firman-Nya, “”Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.” (Ibrahim/14:9)

Apa Faedah Pengulangan Kisah?

Ada di antara kisah-kisah al-Qur’an yang hanya disebutkan satu kali saja seperti kisah Luqman dan Ash-habul Kahf. Ada pula yang disebutkan berulang kali sesuai dengan kebutuhan dan mashlahat. Pengulangan ini pun tidak dalam satu aspek, tetapi berbeda dari aspek panjang dan pendek, lembut dan keras serta penyebutan sebagian aspek lain dari kisah itu di satu tempat namun tidak disebutkan di tempat lainnya.

Hikmah Pengulangan Kisah

Di antara hikmah pengulangan kisah ini adalah:

– Penjelasan betapa urgennya kisah sebab dengan pengulangannya menunjukkan adanya perhatian penuh terhadapnya.

– Menguatkan kisah itu sehingga tertanam kokoh di hati semua manusia

– Memperhatikan masa dan kondisi orang-orang yang diajak bicara. Karena itu, anda sering mendapatkan kisahnya begitu singkat dan biasanya keras bila berkenaan dengan kisah-kisah dalam surat-surat Makkiyyah, namun hal sebaliknya terjadi pada kisah-kisah dalam surat-surat Madaniyyah

– Penjelasan sisi balaghah al-Qur’an dalam pemunculan kisah-kisah tersebut dari sisi yang satu atau dari sisi yang lainnya sesuai dengan tuntutan kondisi

– Nampak terangnya kebenaran al-Qur’an dan bahwa ia berasal dari Allah ta’ala dimana sekali pun kisah-kisah tersebut dimuat dalam beragam jenis namun tidak satu pun terjadi kontradiksi.

(SUMBER: Ushuul Fi at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal.48-51)

Turunnya Al-Qur’an Secara Ibtida’I dan Sababi
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Turunnya Al-Qur’an dibagi menjadi dua macam :

1. Secara ibtida’I; yaitu ayat Al-Qur’an yang turun tanpa didahului oleh suatu sebab yang melatarbekanginya. Dan mayoritas ayat-ayat Al-Qur’an turun secara ibtida’I, diantaranya firman Allah ta’ala :

وَمِنْهُمْ مّنْ عَاهَدَ اللّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصّدّقَنّ وَلَنَكُونَنّ مِنَ الصّالِحِينَ

”Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah; sesungguhnya Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bershadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih” (QS. At-Taubah : 75).

Sesungguhnya ayat ini mula-mula turun untuk menjelaskan keadaan sebagian orang-orang munafiq. Adapun mengenai berita yang masyhur bahwa ayat-ayat ini turun berkaitan dengan Tsa’labah bin Hathib dalam suatu kisah yang panjang yang disebutkan oleh mayoritas ahli tafsir dan dikuatkan oleh mayoritas da’I (pemberi nasihat), merupakan riwayat yang dla’if (lemah) yang tidak dapat dibenarkan.

2. Secara sababi; yaitu ayat Al-Qur’an yang diturunkan didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakangi. Sebab-sebab tersebut bisa berupa :

a. Pertanyaan yang dijawab oleh Allah ta’ala. Contohnya :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنّاسِ وَالْحَجّ

”Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah : “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji” (QS. Al-Baqarah : 189).

b. Kejadian sebuah peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan.

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنّ إِنّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

”Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja” (QS. At-Taubah : 65).

Dua ayat di atas turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari golongan munafik yang berkata dalam suatu majelis pada waktu perang Tabuk : “Kami tidak melihat orang semisal pembaca Al-Qur’an kita ini, mereka paling besar perutnya, paling dusta lisannya, dan paling penakut ketika bertemu dengan musuh”. Yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat beliau. Kemudian hal itu sampai terdengar oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian turunlah ayat Al-Qur’an. Kemudian laki-laki tersebut dating kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk meminta maaf kepadanya, maka beliau menjawab dengan memebacakan firman Allah ta’ala :

أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, danRasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. At-Taubah : 65).

c. Adanya suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukumnya. Contohnya :

قَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيَ إِلَى اللّهِ وَاللّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمآ إِنّ اللّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

”Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Mujaadilah : 1).

 

Faedah Mengetahui Asbaabun-Nuzul
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Mengetahui asbaabun-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an) merupakan hal yang sangat penting, karena mengandung beberapa faedah. Diantaranya :

1. Menjelaskan bahwa Al-Qur’an benar-benar turun dari Allah ta’ala

Hal ini dapat dilihat bahwa terkadang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam jika ditanya tentang suatu masalah, beliau terdiam dan tidak menjawab pertanyaan itu sampai turun wahyu kepadanya, atau beliau sedang menghadapi suatu permasalahan, kemudian turun wahyu kepada beliau sebagai penjelas atas hal tersebut.

Contoh Pertama

Firman Allah ta’ala :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرّوحِ قُلِ الرّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبّي وَمَآ أُوتِيتُم مّن الْعِلْمِ إِلاّ قَلِيلاً

Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,”Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Israa’ : 85).

Dalam kitab Shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki dari kalangan Yahudi berkata,”Wahai Abul-Qasim – nama panggilan untuk Rasulullah – apa ruh itu?”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diam tidak menjawab pertanyaan itu. Dalam suatu lafadh disebutkan : Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menahan diri dan tidakmenjelaskan sesuatupun kepada mereka. Aku (Ibnu Mas’ud) tahu bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang menerima wahyu, kemudian aku berdiri di tempatku. Ketika wahyu turun beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau berkata :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرّوحِ قُلِ الرّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبّي وَمَآ أُوتِيتُم مّن الْعِلْمِ إِلاّ قَلِيلاً

Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,”Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Israa’ : 85).

Contoh Kedua :

Firman Allah ta’ala :

يَقُولُونَ لَئِن رّجَعْنَآ إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنّ الأعَزّ مِنْهَا الأذَلّ

Mereka berkata : “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir yang lemah daripadanya” (QS. Al-Munaafiquun : 8).

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Zaid bin Arqam radliyallaahu ‘anhu mendengar Abdullah bin ‘Ubay bin Salul, seorang pemimpin dari golongan munafik, mengatakan bahwa menurut ayat di atas, yang dimaksud dengan orang yang lebih mulia adalah dia. Sedangkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya adalah orang yang lebih hina. Maka Zaid mengkhabarkan hal itu kepada pamannya, kemudian sang paman mengkhabarkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil Zaid, kemudia dia (Zaid) mengkhabarkan apa-apa yang dia dengan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam datang kepada Abdullah bin ‘Ubay dan para shahabatnya, maka mereka bersumpah bahwa mereka tidak mengatakan hal itu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun mempercayai mereka. Maka Allah ta’ala menurunkan wahyu sebagai bentuk pembenaran kepada Zaid seperti yang tersebut dalam ayat ini, sehingga jelaslah urusan tersebut bagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

2. Sebagai bukti pertolongan Allah ta’ala dan pembelaan atas Rasul-Nya

Contoh tentang hal itu tersebut dalam firman Allah ta’ala :

وَقَالَ الّذِينَ كَفَرُواْ لَوْلاَ نُزّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

Berkatalah orang-orang kafir : “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturnkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)” (QS. Al-Furqaan : 32).

Begitu pula dengan ayat-ayat Al-Ifk (berita dusta), sesungguhnya ayat-ayat tersebut merupakan pembelaan terhadap tempat tidur (istri – yaitu ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan pensucian atas dirinya dari kebohongan para pendusta. (Baca kisah tentang masalah ini dalam QS. An-Nuur : 11-26).

3. Sebagai bukti pertolongan Allah ta’ala kepada hamba-Nya, dengan melapangkan kesusahan dan menghilangkan kesedihan mereka

Contoh yang berkenaan dengan hal ini terdapat dalam ayat tentang tayamum. Tersebut dalam kitab Shahih Bukhari bahwa kalung milik ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha hilang, ketika itu ia sedang ikut dalam perjalanan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka, Nabi pun mencarinya. Dan orang-orang ketika itu tidak menemukan air dimana mereka kemudian mengadukan hal itu kepada Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu. Disebutkan dalam hadits bahwa kemudian turunlah ayat tentang tayamum. Maka mereka pun melakukan tayamum. Berkata ‘Usaid bin Hudlair,”Ini bukanlah barakah kalian yang pertama kalinya wahai keluarga Abu Bakar”. Hadits ini terdapatdalam Shahih Bukhari dengan lafadh yang panjang.

4. Memahami ayat dengan pemahaman yang benar

Contoh tentang hal ini terdapat dalam firman Allah ta’ala :

إِنّ الصّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ فَمَنْ حَجّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطّوّفَ بِهِمَا

”Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya”

Sesungguhnya melihat teks ayat فَلاَ جُنَاحَ ( “maka tidak ada dosa baginya” ) menunjukkan bahwa hakikat perintah mengerjakan sa’I antara Shafa dan Marwah hanyalah perintah yang bersifat mubah saja.

Dalam kitab Shahih Bukhari dari ‘Ashim bin Sulaiman dia berkata : “Saya bertanya kepada Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu tentang Shafa dan Marwah”. Anas menjawab : “Kami berpendapat bahwa keduanya termasuk perkara jahiliyyah. Maka setelah datang Islam, kami lestarikan atas keduanya”. Kemudian Allah ta’ala menurunkan firman-Nya : إِنّ الصّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ ”Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah” sampai dengan firman-Nya : أَن يَطّوّفَ بِهِمَا ”mengerjakan sa’I antara keduanya”.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa peniadaan dosa di sini bukan berarti sebagai penjelasan tentang asal hukum sa’i, tetapi yang dimaksudkan adalah peniadaan atas keberatan mereka atau anggapan bahwa hal itu dosa, sehingga mereka menahan diri dari mengerjakan sa’I antara keduanya. Karena sebelumnya mereka berpendapat bahwa keduanya termasuk perkara jahiliyyah. Sdapun asal hukum sa’i, maka telah jelas dengan firman Allah مِن شَعَآئِرِ اللّهِ ”Termasuk sebagian syi’ar-syi’ar Allah”.

 

Keumuman Lafadh dan Kekhususan Sebab
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Apabila ada suatu ayat yang turun yang berhubungan dengan sebab tertentu secara khusus, sedangkan bentuk lafadhnya bersifat umum, maka cakupan hukum dalam lafadh disamping berlaku untuk sebab khusus tersebut, juga berlaku secara umum sesuai dengan keumuman lafadhnya. Karena Al-Qur’an turun sebagai syari’at yang umum dan berlaku untuk semua umat. Maka pengambilan dasar hukum atas nash itu didasarkan kepada keumuman lafadh, tidak pada kekhususan sebabnya.

Contoh tentang permasalahan ini terdapat dalam ayat-ayat li’an, yaitu firman Allah ta’ala :

وَالّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لّهُمْ شُهَدَآءُ إِلاّ أَنفُسُهُمْ

”Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri” (QS. An-Nuur : 6)

sampai firman-Nya :

إِن كَانَ مِنَ الصّادِقِينَ

”Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar” (QS. An-Nuur : 9).

Dalam Kitab Shahih Bukhari dari hadits Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, bahwa Hilal bin ‘Umayyah menuduh istrinya berzina dengan Syarik bin Sahma’. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata : “Al-Bayyinah (hendaklah kamu mendatangkan bukti atau kamu akan dirajam”. Maka Hilal berkata : “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku benar. Semoga Allah menurunkan ayat yang dapat membebaskan punggungku dari hukuman (hadd)”. Kemudian Jibril turun dan membawa wahyu kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :

وَالّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ

”Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina)”

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca hingga sampai kepada ayat :

إِن كَانَ مِنَ الصّادِقِينَ

”Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”

Jadi, ayat ini turun dengan sebab tuduhan Hilal bin Umayah kepada istrinya. Akan tetapi kandungan hukumnya berlaku umum, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Sahl bin Sa’ad radliyallaahu ‘anhu bahwa ‘Uwaimir Al-‘Ajlani datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia berkata : “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki mendapati istrinya bersama laki-laki lain. Apakah dia membunuhnya (laki-laki yang bersama istrinya tersebut) maka kalian semua akan membunuhnya, atau apa yang harus dia lakukan?”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Allah telah menurunkan Al-Qur’an tentangmu dan tentang istrimu”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan atas keduanya dengan mula’anah melaknat) sesuai dengan apa yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya. Maka dia me-li’an istrinya (Al-Hadits).

Jadi, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan hukum dalam ayat-ayat ini mencakup masalah Hilal bin ‘Umayyah dan juga bagi yang lainnya.

 

Ayat Makiyyah dan Madaniyyah (1)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Dan sebagian besar wahyu Al-Qur’an itu Rasulullah terima di Makkah.

Allah ta’ala berfirman :

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النّاسِ عَلَىَ مُكْثٍ وَنَزّلْنَاهُ تَنْزِيلاً

”Dan Al-Qur’an, telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (QS. Al-Israa’ : 106)

Oleh karena itu, para ulama rahimahumullah membagi ayat Al-Qur’an menjadi dua katagori, yaitu Makiyyah dan Madaniyyah. Ayat Makiyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebelum hijrah ke Madinah. Ayat Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam setelah hijrah ke Madinah. Berdasarkan definisi tersebut, maka firman Allah ta’ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً

”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridlai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah : 3) adalah termasuk ayat Madaniyyah meskipun ayat tersebut turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada saat Haji Wada’ di ‘Arafah.

Dalam Shahih Bukhari dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu bahwa ia berkata : “Sungguh kami benar-benar mengetahui hari dan temapt diturunkannya (ayat) tersebut kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ayat tersebut turun ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di ‘Arafah pada hari Jum’at”.

Perbedaan Makiyyah dan Madaniyyah

a. Dari Sisi Uslub

1. Ayat-ayat Makiyyah pada umumnya uslub (gaya bahasa)nya sangat kuat dan khithab (pembicaraan)nya tegas; karena mukhathab (orang yang diajak bicara) mayoritas adalah para pembangkang dan orang-orang yang sombong. Tidak ada yang lebih patut bagi mereka kecuali hal itu. Silakan baca dua surat yaitu Al-Mudatstsir dan Al-Qamar.

Adapun ayat-ayat Madaniyyah, pada umumnya uslubnya halus dan khithab (pembicaran)nya mudah, karena mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang menerima dan tunduk. Silakan baca Surat Al-Maidah.

2. Ayat Makiyyah pada umumnya pendek-pendek dan kuat hujjahnya, karena mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang membangkang dan durhaka. Maka mereka diajak bicara sesuai dengan kondisi dan keadaan mereka. Silakan baca Surat Ath-Thuur.

Adapun ayat-ayat Madaniyyah pada umumnya panjang-panjang dan menyebutkan hukum-hukum yang disampaikan dengan tanpa banyak alasan. Karena kondisi dan keadaan mereka menuntut hal itu. Silakan baca ayat tentang masalah hutang dalam surat Al-Baqarah.

b. Dari Sisi Pembahasan

1. Ayat-ayat Makiyyah pada umumnya berisi tentang pemantapan ataupun penguatan Tauhid serta aqidah yang lurus, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyyah dan iman kepada hari kebangkitan. Hal itu dikarenakan orang yang diajak bicara mayoritas mengingkari hal tersebut.

Adapun ayat-ayat Madaniyyah, pada umumnya berisi tentang penjelasan ibadah dan muamalah, karena tauhid dan aqidah yang lurus telah menetap pada jiwa-jiwa orang yang diajak bicara, sedangkanmereka membutuhkan penjelasan mengenai ibadah dan muamalah.

2. Pada ayat-ayat Madaniyyah banyak disebutkan tentang hukum masalah jihad dan karakteristik orang-orang munafik. Hal itu disebabkan karena ketika disyari’atkannya ayat-ayat tersebut, telah muncul benih-benih kemunafikan. Berbeda dengan ayat-ayat Makiyyah.

 

Ayat Makiyyah dan Madaniyyah (1)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Beberpa Faedah Mengetahui Ayat Madaniyyah dan Makiyyah

Mengetahui perbedaan ayat-ayat Makiyyah dan Madniyyah merupakan bagian terpenting dari ilmu-ilmu Al-Qur’an, karena hal itu mengandung beberapa faedah antara lain :

1. Menunjukkan ketinggian balaghah dan uslub dalam Al-Qur’an sehingga dalam berdakwah atau mengajak kepada setiap kaum selalu disesuaikan dengan kondisi dan keadaan mereka, baik yang menyangkut tentang keras lembutnya bentuk ajakan mapun berat ringannya suatu perintah.

2. Menunjukkan hikmah pensyari’atan hukum-hukum yang sangat sempurna, yaitu hukum-hukum itu diturunkan secara bertahap sesuai dengan keadan, kondisi, dan tuntutan mukhathabiin (umat manusia) serta kesiapan mereka untuk menerima dan melaksanakan hukum-hukum tersebut.

3. Pendidikan dan pengarahan bagi para da’I agar mereka menerapkan prinsip-prinsip Qur’ani di dalam dakwah mereka, baik menyangkut pemilihan uslub ataupun tahapan-tahapan materi yang tepat, disesuaikan dengan audien dakwah mereka.

4. Memprioritaskan ayat yang nasikh (menghapuskan) dari ayat yang mansukh (yang dihapuskan) jika kedua ayat ini, yaitu ayat Makiyyah dan Madaniyyah membahas suatu hukum yang sama yang mengharuskan adanya naskh (penghapusan), karena ayat Madniyyah adalah penghapus bagi ayat Makiyyah. Hal tu disebabkan karena ayat Madaniyyah lebih belakangan turunnya daripada ayat Makiyyah.

 

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Pembagian ayat-ayat dalam Al-Qur’an menjadi Makiyyah dan Madaniyyah, menunjukkan Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam secara berangsur-angsur. Turunnya Al-Qur’an yang demikian itu mempunyai hikmah yang banyak di antaranya :

1. Untuk menguatkan hati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَقَالَ الّذِينَ كَفَرُواْ لَوْلاَ نُزّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتّلْنَاهُ تَرْتِيلاً
وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاّ جِئْنَاكَ بِالْحَقّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيراً

Berkatalah orang-orang kafir : “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya” (QS. Al-Furqaan : 32-33).

2. Untuk memudahkan manusia dalam menghafal, memahami dan mengamalkan, sehingga dibacakan kepada mereka setahap demi setahap berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النّاسِ عَلَىَ مُكْثٍ وَنَزّلْنَاهُ تَنْزِيلاً

”Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan berangsur-angsur supaya kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (QS. Al-Israa’ : 106)

3. Menambah keinginan untuk menerima dan melaksanakan perintah yang dating dari Al-Qur’an, sehingga manusia merindukan dengan penuh harap akan turunnya ayat, terutama berkenaan dengan hal-hal yang sangat membutuhkan jawaban dan penjelasan, sebagaimana dalam ayat-ayat Al-Ifk (berita dusta) dan Li’an.

4. Pensyari’atan hukum secara berangsur-angsur hingga sampai pada kesimpulan hukum yang sempurna seperti dalam ayat khamr, yang mana manusia hidup dalam kultur budaya meminum khamr, maka sangatlah sulit dan berat bagi mereka untuk menerima larangan dengan meninggalkan tradisi mereka itu secara mutlak. Sehingga,…pensyari’atan hukum hukum dalam pelarangan khamr secara bertahap hingga sampai kepada pengharaman khamr secara mutlak.

Tahapan-tahapan hukum pengharaman minum khamr adalah sebagai berikut :

a. Firman Allah ta’ala :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نّفْعِهِمَا

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah : “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” (QS. Al-Baqarah : 219).

Maka dalam ayat ini mengandung persiapan bagi jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr, karena sesungguhnya akal menghendaki agar tidak melakukan suatu perbuatan yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.

b. Firman Allah ta’ala :

يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىَ حَتّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalamkeadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” (QS. An-Nisaa’ : 43)

Maka dalam ayat ini terdapat latihan untuk meninggalkan khamr pada sebagian waktu, yaitu waktu-waktu shalat.

c. Firman Allah ta’ala :

يَـَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ إِنّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنصَابُ وَالأزْلاَمُ رِجْسٌ مّنْ عَمَلِ الشّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنّمَا يُرِيدُ الشّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مّنتَهُونَ. وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلّيْتُمْ فَاعْلَمُوَاْ أَنّمَا عَلَىَ رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS. Al-Maidah 90-92).

 

Tartib dalam Al-Qur’an
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Yang dimaksud dengan tartib dalam Al-Qur’an adalah membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan dan berurtan sesuai dengan yang tertulis dalam Mushhaf-Mushhaf dan yang dihafal oleh para shahabat radliyallaahu ‘anhum ajma’in.

Tartib dalam Al-Qur’an ada 3 macam, yaitu :

1. Tartib Kalimat (kata), yaitu setiap kata dalam suatu ayat harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan dalil nash dan ijma’, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang memperselisihkannya tentang masalah ini. Sebagai contoh, tidak boleh membaca ayat dalam surat Al-Fatihah : للّهِ الْحَمْدُ رَبّ الْعَالَمِينَ sebagai pengganti الْحَمْدُ للّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ .

2. Tartib Ayat, yaitu setiap ayat dari suatu surat harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan dalil nash dan ijma’, dan yang demikian ini adalah wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan menyelisihinya hukumnya adalah haram. Sebagai contoh, tidak boleh membaca ayat : مَـَلِكِ يَوْمِ الدّينِ – الرّحْمـَنِ الرّحِيم sebagai pengganti الرّحْمـَنِ الرّحِيمِ – مَـَلِكِ يَوْمِ الدّينِ .

Dan dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Az-Zubair radliyallaahu ‘anhu berkata kepada ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu tentang firman Allah ta’ala :

وَالّذِينَ يُتَوَفّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً وَصِيّةً لأزْوَاجِهِمْ مّتَاعاً إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

”Dan orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya” (QS. Al-Baqarah : 240) bahwa ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat lainnya yaitu firman Allah ta’ala :

وَالّذِينَ يُتَوَفّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبّصْنَ بِأَنْفُسِهِنّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً

”Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari” (QS. Al-Baqarah : 234).

Dan ayat ini dibaca sebelum ayat yang tadi. Dia (Abdullah bin Zubair) berkata,”Kenapa engkau menulisnya?” ( = yaitu menulis apa yang telah dihapus).

Maka ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu menjawab : “Wahai anak saudaraku, aku tidak mau merubah Al-Qur’an sedikitpun dari tempatnya”. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Tirmidzi dari hadits ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu bahwa diturunkan sejumlah (ayat-ayat ), maka apabila turun kepada beliau suatu ayat, beliau memanggil sebagian orangyang mempu menulis, kemudian beliau berkata,”Letakkanlah ayat-ayat ini pada satu surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini”.

3. Tartib Surat, yaitu setiap surat dari satu Mushhaf harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan ijtihad para ulama, sehingga hukumnya tidak wajib.

Dalam kitab Shahih Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman radliyallaahu ‘anhu bahwa pada suatu malam ia shalat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi membaca surat Al-Baqarah kemudian surat An-Nisaa’, kemudian surat Aali Imran ( = dengan kata lain, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat ke-2 dalam urutan mushhaf, kemudian surat ke-4, dan kemudian surat ke-3).

Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari sebagai ta’liq (komentar) tentang Al-Ahnaf bahwa beliau (Al-Ahnaf) pada raka’at pertama membaca surat Al-Kahfi, dan pada raka’at kedua membaca surat Yusuf atau surat Yunus. Dan disebutkan bahwa beliau shalat shubuh bersama ‘Umar bin Al-Khaththab dengan membaca dua surat tersebut (yaitu surat Yusuf dan surat Yunus).

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Diperbolehkan membaca surat ini sebelum (surat) ini (secara tidak urut), dan demikian pula dalam penulisannya. Oleh karena itu, mushhhaf-mushhaf para shahabat radliyallaahu ‘anhu berbeda-beda dalam hal penulisannya, akan tetapi ketika mereka telah menyepakati mushhaf pasa masa ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu, maka hal ini menjadi sunnah Khulafa-ur-Rasyidin, dan hadits telah menunjukkan bahwa sunnah mereka wajib diikuti”.

 

TAFSIR

Makna Tafsir Secara Bahasa dan Istilah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Secara bahasa, tafsir berasal dari kata الفَسْرُ, yaitu menyingkap sesuatu yang tertutup.

Dan secara istilah, tafsir adalah menjelaskan makna-makna Al-Qur’an Al-Karim. Mempelajari tafsir hukumnya adalah wajib, berdasarkan firman Allah ta’ala :

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لّيَدّبّرُوَاْ آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكّرَ أُوْلُو الألْبَابِ

”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad : 29).

Dan berdasarkan firman Allah ta’ala :

أَفَلاَ يَتَدَبّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىَ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24).

Istidllal (konklusi) dari ayat pertama adalah bahwa Allah ta’ala menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur’an yang penuh berkah ini adalah agar manusia memperhatikan ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran yang terkandung di dalamnya. Tadabbur adalah memperhatikan, mempelajari, dan merenungi lafadh-lafadh untuk mencapai maknanya (yang hakiki). Jika hal itu tidak dilakukan, maka luputlah hikmah diturunkannya Al-Qur’an, dan jadilah Al-Qur’an hanya sekedar lafadh-lafadh yang menjadi bacaan rutinitas yang tidak dapat memberikan pengaruh bagi orang-orang yang membacanya.

Hal ini disebabkan karena pengambilan ibrah (pelajaran) itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Istidllal (konklusi) dari ayat yang kedua adalah bahwa Allah ta’ala mencela orang-orang yang tidak memperhatikan Al-Qur’an, serta mengisyaratkan bahwa hal tersebut termasuk penutup dan penghalang hati mereka, sehingga kebenaran itu tidak sampai kepada hati mereka.

Dulu, para salaful-ummah (umat terdahulu) berada di atas jalan yang wajib ini. Mereka mempelajari Al-Qur’an, baik lafadhnya maupun maknanya, karena dengan cara itulah mereka akan mampu mengamalkan Al-Qur’an sesuai dengan yang dikehendaki Allah ta’ala. Karena mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui maknanya adalah hal yang mustahil.

Berkata Abu Abdirrahman As-Salami,”Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin ‘Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan juga yang lainnya; bahwa apabila mereka mempelajari dari Nabi sepuluh ayat, mereka tidak menambahnya sampai mereka mempelajari pelajaran apa yang ada di dalam ayat-ayat tersebut, kemudian berusaha untuk mengamalkannya”. Mereka berkata,”Maka kami mempelajari Al-Qur’an, mengambil ilmu dari Al-Qur’an, dan sekaligus mengamalkannya”.

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah,”Adat (tradisi) menghalangi suatu kaum untuk membaca sebuah kitab tentang suatu macam ilmu, seperti ilmu kedokteran dan ilmu hisab, tanpa menuntut penjelasan untuk hal itu. Maka bagaimana dengan Kalamullah ta’ala yang merupakan tali pegangan mereka, dan dengannyalah (dapat diraih) keselamatan dan kebahagiaan mereka, serta tegaknya agama dan dunia mereka”.

Wajib atas ahli ilmu untuk menjelaskan hal tersebut kepada umat manusia, baik dengan tulisan maupun dengan lisan, berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَإِذَ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ الّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيّنُنّهُ لِلنّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ

”Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya” (QS. Aali Imran : 187).

Dan penjelasan tentang Al-Qur’an kepada manusia itu bersifat menyeluruh, meliputi penjelasan tentang lafadh-lafadh dan makna-maknanya. Jadi, tafsir Al-Qur’an itu termasuk janji yang akan Allah minta pertanggungjawabannya kepada ahli ilmu untuk menjelaskannya.

Tujuan mempelajari ilmu tafsir adalah tercapainya tujuan yang terpuji dan buah yang mulia, yaitu At-Tashdiq (membenarkan) khabar-khabar Al-Qur’an dan mengambil manfaat dari khabar-khabar tersebut serta menetapkan hokum-hukumnya sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah, yaitu agar dalam menyembah Allah ta’ala didasari atas bashirah (ilmu).

 

Kewajiban Bagi Seorang Muslim dalam Menafsirkan Al-Qur’an
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Kewajiban bagi seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah hendaknya ketika menafsirkan Al-Qur’an ia merasa dirinya adalah penerjemah Allah ta’ala, sebagai saksi atas-Nya tentang apa-apa yang Dia kehendaki dari kalam-Nya; sehingga dia mengagungkan persaksian ini dan takut mengatakan tentang Allah tanpa ilmu, karena hal itu bias mengakibatkan dia terjerumus kepada hal-hal yang Allah haramkan yang bias membuatnya hina di hari kiamat nanti. Allah ta’ala telah berfirman :

قُلْ إِنّمَا حَرّمَ رَبّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah : “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-A’raf : 33).

Allah ta’ala berfirman :

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللّهِ وُجُوهُهُم مّسْوَدّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنّمَ مَثْوًى لّلْمُتَكَبّرِينَ

”Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (QS. Az-Zumar : 60).

 

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur’an (1)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

1. Al-Qur’an

Yakni Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al-Qur’an, karena Allah ta’ala Dia-lah Dzat yang menurunkan Al-Qur’an dan Dia-lah yang paling mengetahui maksud yang terkandung dalam Al-Qur’an.

1). Firman Allaah ta’ala :

أَلآ إِنّ أَوْلِيَآءَ اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Yunus : 62). Dalam ayat ini, kata Auliyaaullah أَوْلِيَآءُ اللّهِ (wali-wali Allah) ditafsirkan oleh firman Allah pada ayat berikutnya, yaitu :

الّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتّقُونَ

”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (QS. Yunus : 63).

2). Firman Allah ta’ala :

وَمَآ أَدْرَاكَ مَا الطّارِقُ

”Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?” (QS. Ath-Thariq : 2). Kata Ath-Thariq ditafsirkan dengan firman Allah ta’ala pada ayat ketiganya :

النّجْمُ الثّاقِبُ

”(Yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS. Ath-Thariq : 3).

3). Firman Allah ta’ala :

وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

”Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (QS. An-Naazi’aat : 30). Kata دَحَاهَا ditafsirkan dengan dua ayat sesudahnya :

أَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعَاهَا * وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

”Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhan. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS. An-Naazi’aat : 31-32).

2. Sunnah Rasul

Yakni Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-Sunnah, karena rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah muballigh (penyampai risalah) dari Allah ta’ala, maka beliau adalah manusia yang paling mengetahui maksud-maksud yangterkandung dalam firman Allah ta’ala.

Diantara contoh penafsiran Al-Qur’an dengan As-Sunnah adalah sebagai berikut :

1). Firman Allah ta’ala :

لّلّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَىَ وَزِيَادَةٌ

”Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahal yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menafsirkan kata وَزِيَادَةٌ (tambahan) dengan : “melihat wajah Allah ta’ala”; sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim secara jelas dari hadits Abu Musa dan Ubay bin Ka’ab dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Ka’ab bin ‘Ujrah, dan dalam Shahih Muslim dari Shuhaib bin Sinan dari Nabi dalam suatu hadits beliau berkata,”Maka disingkapkanlah hijab, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka ‘azza wa jalla”; kemudian beliau membaca ayat ini :

لّلّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَىَ وَزِيَادَةٌ

”Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahal yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26).

2). Firman Allah ta’ala :

وَأَعِدّواْ لَهُمْ مّا اسْتَطَعْتُمْ مّن قُوّةٍ

”Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS. Al-Anfaal : 60).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menafsirkan kata Al-Quwwah – الْقُوّة dengan “melempar”.

Diriwaytkan oleh Muslim dan lainnya dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radliyallaahu ‘anhu.

 

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur’an (2)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

3. Ucapan Shahabat Radliyallaahu ‘anhum

Yakni menafsirkan Al-Qur’an dengan perkataan shahabat radliyallaahu ‘anhum, terutama kalangan shahabat yang menguasai tafsir, karena Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan pada jaman mereka, karena merekalah generasi – setelah Nabi – yang paling jujur dalam mencari Al-Haq (kebenaran), paling selamat dari hawa nafsu, dan paling bersih dari penyimpangan-penyimpangan yang dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan taufiq dari Allah ta’ala. Diantara contoh penafsiran Al-Qur’an dengan ucapan shahabat adalah sebagai berikut :

وَإِن كُنتُم مّرْضَىَ أَوْ عَلَىَ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مّنْكُمْ مّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النّسَآءَ

”Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan” (QS. Al-Maidah : 6). Tersebut dalam riwayat yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwa beliau menafsirkan al-mulamasah (menyentuh – wanita) dengan jima’ (bersetubuh).

4. Ucapan Pemuka Tabi’in

Yakni menafsirkan Al-Qur’an dengan ucapan para pemuka tabi’in yang konsisten dalam penafsiran mereka atas ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu merujuk kepada para shahabat radliyallaahu ‘anhum. Karena tabi’in adalah sebaik-baik manusia setelah para shahabat dan paling selamat dari hawa nafsu daripada generasi sesudahnya, dan bahasa Arab belum banyak berubah pada masa mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang lebih dekat kepada kebenaran dalam memahami Al-Qur’an daripada generasi sesudahnya.

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’ Fatawaa,”Apabila mereka (para tabi’in) bersepakat atas sesuatu, maka tidak diragukan akan keberadaannya sebagai hujjah. Akan tetapi jika mereka berselisih, maka perkataan sebagian mereka tidak menjadi hujjah atas sebagian yang lain dan tidak pula menjadi hujjah atas orang-orang setelah mereka. Maka hal tersebut dikembalikan kepada bahasa Al-Qur’an atau Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau perkataan shahabat tentang hal itu”.

Beliau juga berkata,”Siapa yang menyimpang dari madzhab-madzhab para shahabat dan para tabi’in serta tafsir mereka, maka dia telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut. Bahkan dia bisa menjadi mubtadi’ (orang yang mengada-ada – bid’ah). Jika dia adalah orang yang berijtihad (mujtahid), maka diampuni kesalahan-kesalahannya”. Kemudian beliau berkata,”Maka barangsiapa yang menyelisihi perkataan mereka dan menafsirkan Al-Qur’an berbeda dengan tafsir mereka, maka dia telah berbuat kesalahan dalam hal dalil dan madlul (makna)”.

5. Pemaknaan Kalimat dari Tinjauan Syar’I atau Lughawi Sesuai dengan Kesesuaian Makna dalam Kalimat

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

إِنّآ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النّاسِ بِمَآ أَرَاكَ اللّهُ

”Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa-apa yang telah Allah wahyukan kepadamu” (QS. An-Nisaa’ : 105).

Dan firman Allah ta’ala :

إِنّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لّعَلّكُمْ تَعْقِلُونَ

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Az-Zukhruf : 3).

Dan firman Allah ta’ala :

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رّسُولٍ إِلاّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيّنَ لَهُمْ

”Tidakkah Kami mengutus seorag Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” (QS. Ibrahim : 4).

Apabila makna syar’I dan makna lughawi (bahasa) berbeda, maka yang diambil adalah makna syar’I, karena Al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan syari’at, bukan untuk menjelaskan bahasa, kecuali jika terdapat dalil yang lebih menguatkan makna lughawi. Maka yang dipakai adalah makna lughawi tersebut.

Contoh ayat yang mengandung perbedaan makna syar’I dan makna lughawi, kemudian didahulukan makna syar’I antara lain :

Firman Allah ta’ala tentang orang-orang munafik :

وَلاَ تُصَلّ عَلَىَ أَحَدٍ مّنْهُم مّاتَ أَبَداً

”Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka” (QS. At-Taubah : 84).

Sesungguhnya makna shalat secara bahasa berarti doa, dan secara syar’i makna shalay disini adalah berdiri di hadapan orang yang meninggal dunia untuk mendoakannya dengan syarat dan rukun tertentu. Maka didahulukanlah makna syar’i, karena maksud dari mutakallimin (orang yang bicara) adalah apa yang dipahami oleh mukhathab (orang yang diajak bicara).

Adapun larangn mendoakan mereka secara muthlaq, maka berasal dari dalil yang lainnya.

Contoh ayat yang di dalamnya mengandung perbedaan makna syar’i dan makna lughawi, kemudian didahulukan makna lughawi karena ada dalil yang menguatkan, adalah :

Firman Allah ta’ala :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهّرُهُمْ وَتُزَكّيهِمْ بِهَا وَصَلّ عَلَيْهِمْ

”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka” (QS. T-Taubah : 103).

Yang dimaksud dengan shalat di sini adalah doa, dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Abi ‘Aufa, dia berkata,”Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dikirimi shadaqah dari suatu kaum, beliau mendoakan mereka”. Maka bapakku mendatangi beliau dengan membawa shadaqah, kemudian beliau berdoa,”Ya Allah, berikanlah keselamatan atas keluarga Abu ‘Aufa”.

Dan contoh ayat yang mengandung kecocokan makna syar’i dan makna lughawi banyak sekali, seperti السَّمَآءُ (langit), الأَرْضُ (bumi), الصِّدْقُ (kejujuran), اْلكَذِبُ (kedustaan), الحَجَرُ (batu), dan الإنْسَانُ (manusia).

Perbedaan Yang Terjadi Di Dalam Tafsir Bil Ma`tsur
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Perbedaan yang terjadi di dalam tafsir Bil Ma`tsur dapat dibagi menjadi 3 klasifikasi:

Pertama, Berbeda lafazh, bukan Makna.

Hal seperti ini tidak memiliki pengaruh terhadap makna ayat. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

”Dan Tuhanmnu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (QS. Al-Isra`: 23)

Ibn ‘Abbas berkata, “Makna Qadla adalah Amara (memerintahkan).” Mujahid berkata, “Maknanya adalah Washsha (berwasiat).” Ar-Rabi’ bin Anas berkata, “Maknanya adalah Awjaba (mewajibkan).” Penafsiran-penafsiran seperti ini maknanya sama atau mirip sehingga tidak ada pengaruhnya perbedaan tersebut terhadap makna ayat.

Kedua, Berbeda lafazh dan makna.

Dalam hal ini, ayat (yang ditafsirkan) dapat menerima (mencakupi) kedua makna tersebut karena tidak bertentangan (kontradiksi). Artinya, ayat tersebut dapat diarahkan kepada kedua makna tersebut dan ditafsirkan dengan keduanya sehingga sinkronisasi terhadap perbedaan ini adalah bahwa masing-masing dari kedua pendapat tersebut hanya diketengahkan sebagai contoh/permisalan terhadap apa yang dimaksud ayat tersebut atau dalam rangka variasi saja.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat,[175] Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah…” (QS. Al-A’raf : 175-176).

Ibn Mas’ud berkata, “Ia [orang yang telah Kami berikan kepadanya] adalah seorang yang berasal dari kalangan Bani Israil.” Dari Ibn ‘Abbas, ia mengatakan, “[Ia adalah] seorang laki-laki dari penduduk Yaman.” Menurut riwayat lain darinya, “[Ia adalah] seorang laki-laki dari penduduk Balqa`.

Sinkronisasi terhadap pendapat-pendapat ini adalah dengan mengarahkan ayat kepada seluruh pendapat tersebut sebab ia bisa menerimanya (mencakupinya) tanpa menimbulkan pertentangan (kontradiksi) sehingga seakan masing-masing pendapat itu hanya diketengahkan sebagai contoh/permisalan.

Contoh lainnya, firman-Nya :

وَكَأْسًا دِهَاقًا

“Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman)” (QS. An-Naba`:34).

Ibn ‘Abbas berkata, “Makna Dihaaqa adalah penuh.” Mujahid berkata, “Maknanya adalah berurutan (teratur).” ‘Ikrimah berkata, “Maknanya adalah bening.”

Pada hakikatnya, antara pendapat-pendapat ini tidak terdapat pertentangan sebab ayat tersebut mencakupi semuanya sehingga diarahkan kepada semuanya dan masing-masing pendapat merupakan jenis dari makna tersebut.

Ketiga, Berbeda lafazh dan makna.

Dalam hal ini, ayat tidak dapat mencakupi kedua makna tersebut secara bersama-sama karena terjadi kontradisi di antara keduanya. Karena itu, maknanya harus diarahkan kepada pendapat yang paling kuat dari keduanya, baik melalui petunjuk redaksinya atau lainnya.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl:115).

Ibn ‘Abbas berkata, “Makna Baaghin [dengan tidak menganiaya] terhadap bangkai dan ‘Aadin [tidak pula melampaui batas] di dalam memakannya.“ Menurut riwayat yang lain, “Tidak membangkang (angkat senjata) terhadap Imam (pemimpin, penguasa) dan tidak berbuat maksiat di dalam perjalanannya.”

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama sebab dalil tidak mengarah kepada makna kedua dalam ayat tersebut sedangkan yang dimaksud dengan kehalalan hal-hal yang disebutkan disitu adalah melawan kondisi darurat (sehingga tidak diharamkan karena khawatir jiwa binasa-red.,) sedangkan di dalam kondisi membangkang terhadap imam (Pemimpin), dalam kondisi bepergian yang diharamkan dan sebagainya; tetap berlaku (diharamkan).

Contoh lainnya adalah firman-Nya :

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang memegang ikatan nikah…” (QS. Al-Baqarah:237)

‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu mengatakan bahwa makna “orang memegang ikatan nikah” adalah suami. Ibn ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma berkata, “Maknanya adalah Wali.” Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama (suami) sebab maknanya menunjukkan ke arah itu, juga karena telah diriwayatkan sebuah hadits dari Nabi mengenainya.

(SUMBER: Ushuul Fi at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, h.30-31)