86. Nabi – (Noon-Ba-Alif or Noon-Ba-Wao).

Its plural is Anbia. Naba means to give news. According to Ibn-e-Faris its basic meanings are to move from one place to another; that is why news are called Al-Anba because they go from one place to another. Raghib says that every news cannot be called Nab’aun, but only those which are of use, enrich the information and are true; the element of truth in its meaning is however not supported from the Quran.

adalah bentuk plural dari Anbia. Naba berarti pemberi berita. Berdasarkan Ibnu Faris, arti dasarnya adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Itu sebabnya berita disebut juga Al-Anba karena mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Raghib berkata bahwa setiap berita tidak dapat dikatakan sebagai Nab’aun, tapi hanya berita yang berguna saja yang bisa, yang dapat menambah pengetahuan dan bernilai benar. Elemen kebenaran adalah arti dari berita itu sendiri walaupun tidak didukung dari Quran.

Nabaa, Nubuan means to rise high. An-Nabiun is a raised ground or a plateau, a visible path in front (Taj).

Nabaa, Nubuan berarti diangkat ke tempat yang tinggi. An-Nabiun artinya sebuah dataran tinggi atau plateau, sebuah jalan yang terlihat di depan.

If the root of this word is taken as Noon-Ba-Wao, then it would mean to become elevated. An-Nab’awatu is that piece of land which is higher than the others; a high sign-post from which one gets guidance (Taj). Some people think that this word is derived from Nab’aun which means a person who gives news or makes prophecies. In fact, in Jewish religion Nabi was the title of a priest who used to make prophecies; it is not so according to the Quran. Therefore, we think that its correct root is Noon-Ba-Wao, which means the one who stands at a high place, from where he can see what others cannot. The author of Kit’ab-ul-Ishtiq’aq writes that a person addressed Rasool-Allah (peace be upon him) as Ya Nabi-il-Allah! The Rasool-Allah (peace be upon him) said I am not “Nabi-il-Allah” (Lasto Be Nabi Illah) but “Nabi-Ullah.” Not one who gives news, but the one who stands at a high place and with the light of Wahi can see things which other cannot. Its usual translation in English as “Prophet” is, therefore, incorrect and misleading. (For further details also see Rasool).

Jika akar kata dari kata ini diambil dari Nun-Ba-Wau, maka ini bisa berarti ‘diangkat’. An-Nab’awatu adalah bagian dari daratan yang lebih tinggi dari tempat lain; sebuah tanda yang menunjukkan arah kepada seseorang. Beberapa orang berpendapat bahwa kata ini diturunkan dari Nab’aun yang berarti seseorang yang memberikan berita atau melakukan tindakan kenabian. Faktanya, dalam agama Yahudi, nabi adalah gelar untuk pendeta yang biasa meramal. Ini bertentangan dengan makna dalam Quran. Karenanya, kami berpendapat bahwa kata akar yang sebenarnya adalah Nun-Ba-Wau, yang berarti seseorang yang berdiri di tempat yang tinggi, dimana ia dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Penulis Kit’ab-ul-Ishtiq’aq berkata bahwa seseorang yang disebut sebagai Rasulullah (AS) seperti dalam ‘Ya Nabi-il-Allah! Rasulullah berkata: Aku bukan Nabi-il-Allah, melainkan Nabi-Ullah”. Bukanlah seseorang yang memberikan kabar, melainkan seseorang yang berdiri pada satu tempat yang tinggi dan dengan cahaya wahyu dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. Terjemahan dalam bahasa Inggris yang biasa digunakan adalah “Prophet”, yang sebenarnya salah dan menyesatkan.

100. Rasool, pl. Rusul – (Ra-Seen-Lam).

o Rislun is to move softly. Al-Rasl means soft pace.

Rislun berarti bergerak secara halus. Al-Rasl berarti permukaan yang halus

o Naq’atun Raslatun is a she-camel that moves softly. Iblun-Maraseelo is also a camel that moves softly.

Naq’atun Raslatun adalah bentuk wanita dari kata ‘unta’ yang bergerak secara halus. Iblun-Maraseelo juga berarti unta yang bergerak secara halus

o Rasool is a person who is about to move (Raghib). Ibn-e-Faris says that its basic meaning is to start moving.

Rasul adalah seseorang yang akan bergerak. Ibnu Faris berkata bahwa arti dasarnya adalah mulai bergerak.

o Al-Irsal is to send something to someone.

Al-Irsal adalah mengirim sesuatu ke seseorang

o Ar-Rasool is a person who is sent by Allah towards the people. His message is also called Rasool, and is also used in the meaning of Risala and Mursal (Taj), i.e., the message as well as the messenger.

Ar-Rasul adalah seseorang yang dikirim oleh Allah kepada manusia. Pesannya juga disebut Rasool, dan juga digunakan dalam mengartikan Risala dan Mursal. maksudnya, bisa digunakan dalam ‘pesan’ dan juga ‘pembawa pesan’

o Tarseel-fil-Qirat means to recite slowly and nicely and, therefore, Rasool would also mean a person who delivers the message continuously, gently and softly. As mentioned under Nabi, a person who receives Wahi from Allah, so that it is conveyed to the mankind is called Nabi as well as Rasool. There is no difference between them. There cannot be Nubuwwat without Risalat. The concept that Rasool is with Shari’ah and Nabi is without it is against the concept of the Quran. Every Nabi was given a book (2/213) and so was also every Rasool (57/25). Rasool has been used in the Quran 116 times. In other forms it has been used as Rasoolun (37), Rasoola (84), Rasoolan (23), Rasoolona (4), and Rasoolokum (2).

Tarseel-fil-Qirat berarti menyembah secara perlahan dan baik, dan karenanya, Rasul juga dapat diartikan sebagai seseorang yang membawa pesan secara terus-menerus, secara lembut, dan halus. Seperti yang telah disebutkan, Nabi, seseorang yang menerima wahyu dari Allah, jadi Rasul dapat diartikan sebagai seseorang yang dipanggil sebagai Nabi dan Rasul. Tidak ada perbedaan antara mereka. Tidak mungkin ada Nubuat tanpa Risalah. Konsepnya adalah Rasul membawa Syariah, dan Nabi yang tidak membawa syariah akan menyalahi konsep dalam Quran. Setiap nabi akan diberikan kitab dan juga setiap Rasul. Kata Rasul telah digunakan dalam Quran sebanyak 116 kali. Dalam bentuk lain, bisa juga digunakan kata Rasulun, Rasula, Rasula, Rasuluna, dan Rasulukum

The duty of Allah’s Rasool does not end with the securing of Divine Guidance; in fact, this is but the beginning of his task. The root of the word Rasool means a messenger, or one who has a message to deliver. It is the duty of Allah’s Rasool to deliver to mankind the message revealed to him by Allah, without the slightest change or modification. It is by virtue of this function that he is called a Rasool, but it does not end there. He is also responsible for setting up a social order in accordance with the principles enshrined in the Divine Message that he has delivered. In other words, he is entrusted with the establishment of “Allah’s kingdom upon earth.” He is charged with the revolutionary function of ending the sway of tyrannical, oppressive and self-seeking rulers and priests, and establishing a free society in which men will not be dependent upon other men, and will not be subject to anything except the Divine Law. The Rasool thus appears as a great revolutionary who does not content himself with sermons, but practically enforces by example the Divine Law and seeks to bring all men under its sway. This is the real function of the Rasool (Risalat).

Tugas dari Rasulullah tidak berakhir dengan mendapatkan petunjuk suci saja, faktanya, ini hanyalah awal dari tugas sesungguhnya. Akar kata dari Rasul berarti pembawa pesan, atau seseorang yang memiliki pesan untuk dihantarkan. Merupakan tugas dari Rasulullah untuk menghantarkan kepada manusia pesan yang diterimanya dari Allah, tanpa perubahan atau modifikasi sedikitpun. Fungsi inilah yang mengakibatkan seseorang dikatakan sebagai Rasul, namun tetap saja tidak berakhir disini saja. Ia juga bertanggung jawab untuk mengubah susunan sosial yang ada disekitarnya sehingga sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada pada pesan suci yang ia sampaikan. Dengan kata lain, seorang Rasul dipercayai untuk mendirikan Kerajaan Allah di Bumi. Ia diberikan tugas dengan fungsi revolusional untuk mengakhiri tirani, penguasa dan pendeta yang opresif dan egois, dan mendirikan masyarakat bebas dimana setiap orang tidak tergantung pada orang lain, dan juga tidak menjadi subjek dari apapun kecuali Hukum Suci. Rasul dapat dilihat sebagai seorang Revolusionist yang hebat yang tidak mengejar kepentingan dunia untuk dirinya sendiri, melainkan harus mempraktekkan sendiri contoh penggunaan Hukum Suci dan mengajak manusia untuk berlindung di bawah Hukum tersebut. Inilah fungsi sebenarnya dari seorang Rasul

Nubuwwat, or the reception of the revelation of Divine Guidance by Anbia or Rusul, ended with Muhammad Rasool-Allah (peace be upon him). The Guidance revealed to him is preserved and enshrined fully and exactly in the Holy Quran. But the function of Risalat, or the delivery of the Divine Message to all mankind and the establishment of a social order in accordance with its principles, has devolved upon the nation or Ummah that believes in the Holy Quran.

Nubuat, atau penerimaan wahyu (Petunjuk Suci) oleh seorang Anbia atau Rasul, berakhir pada Muhammad Rasulullah (SAW). Petunjuk yang ia terima akan dijaga dan dipelihara seutuhnya dan secara tepat dalam Quran. Namun fungsi dari Risalah, atau penghantaran Pesan Suci kepada seluruh manusia dan pembentukan susunan sosial berdasarkan pada prinsip ini, telah berkurang di negara atau umat yang percaya pada Quran