Saya tertarik untuk membuat sebuah ‘simulasi’ kemungkinan hasil dari pilihan kita ketika pemilu (atau pilkada, atau apapun namanya). Hal ini mungkin bisa membantu dalam menjawab pertanyaan:”Mana yang lebih baik, memilih atau golput?”

Pertama-tama, mari kita lihat ‘flow’ kemungkinan berikut:

Keterangan:

Decision 1: Pilihan untuk memilih atau tidak memilih (golput)

Decision 2: Skenario hasil pemilihan. Apakah si A yang menang atau si B yang menang

Decision 3: Pengaruh jabatan terhadap si A. Apakah si A terpengaruh oleh system sehingga justru menjadi corrupt atau tidak.

Decision 4: Sebaliknya, pengaruh si A terhadap system. Apakah si A berhasil mempengaruhi system menjadi lebih baik, atau system tetap tidak terpengaruh walaupun si A sudah terpilih.

Decision 5: Seandainya si B (yang lebih buruk ketimbang si A) yang terpilih. Apakah si B berhasil mempengaruhi system (sehingga lebih buruk) atau system tidak terpengaruh walaupun si B terpilih

Decision 6: Sikap yang diambil oleh seseorang setelah ia golput. Apakah dia diam saja atau mempromosikan alternative/ide system yang lebih baik

Decision 7: Hasil dari promosi orang yang golput terhadap idenya. Apakah berhasil atau tidak

Decision 8: seandainya promosi orang yang golput berhasil, apakah hasilnya system yang lebih baik ketimbang system sebelumnya (yang menggunakan pemilihan) atau tidak.

Decision 9: Pengaruh tindakan golput seandainya promosinya tidak berhasil terhadap system sebelumnya. Apakah tindakan golput tersebut (beserta promosinya) akan mempengaruhi system yang sedang berjalan sekarang atau tidak.

Decision 10: Pengaruh tindakan golput terhadap system yang berjalan sekarang. Apakah membawa kebaikan terhadap system sekarang, atau tidak.

Nah, setiap decision di atas, akan menghasilkan Final State berikut:

—-Final State untuk orang yang memilih—-

FS2: Sebenarnya kita mulai dari Final State (FS) 2 karena FS1 tidak sengaja terhapus oleh saya😛, dan baru disadari setelah mulai menulis penjelasan ini…. Kondisi pada FS2, sebenarnya kondisi yang sangat buruk. Karena pada kondisi ini, orang yang baik (A) terpilih dan menjadi anggota system, tapi sayangnya karena sistemnya sedemikian corrupt-nya, malah orang baik tersebut yang berubah (menyesuaikan diri?) mengikuti system. Pada kondisi ini, bisa dibilang, orang yang memilih si A justru berbuat kemungkaran karena menjerumuskan si A ke keburukan.

FS3: Pada FS3, kondisi yang tercapai adalah, si A tidak terpengaruh oleh keburukan system (misalnya, walaupun orang-orang pada korupsi, si A tetap bertahan tidak ikut-ikutan), tapi si A juga tidak menghasilkan perubahan terhadap system yang buruk tersebut. Dalam hal ini, si pemilih juga bisa dibilang ikut melakukan kemungkaran, karena ia mendukung system yang menguras sumber daya yang sangat besar, dan yang akan lebih baik disalurkan ke yang lain, hanya untuk hasil yang ‘sia-sia’.

FS4: Kondisi inilah yang sebenarnya merupakan kondisi yang ideal. Kita memilih si A, si A lebih baik ketimbang si B, kemudian si A berhasil mengubah system menjadi lebih baik. Bravo!

FS5: Kondisi ini adalah kondisi terburuk. Pada kondisi ini, si B yang lebih buruk, terpilih, dan kemudian berhasil mengubah system menjadi lebih buruk. Pada kondisi ini, tentu saja orang yang tidak memilih bisa dianggap melakukan kemungkaran karena tidak mencegah hal ini terjadi. (ingat, kita tidak membicarakan respon masyarakat disini)

FS6: Kondisi ini terjadi bila si B terpilih, tapi system tetap tidak terpengaruh (tidak menjadi lebih buruk, apalagi lebih baik…:P ). Pada kondisi ini, yah, mungkin orang yang memilih atau tidak memilih sama saja… lose-lose solution…

—-Final State untuk orang yang tidak memilih (golput)—-

FS7: Kondisi ini terjadi ketika orang yang golput tapi tidak melakukan apa-apa juga… yah, gak ada gunanya… system tidak berubah, dan golputnya juga tidak terjelaskan alasannya. Biasanya kondisi ini terjadi untuk orang yang golput dengan alasan apatis atau gak sengaja (tidak terdaftar, misalnya).

FS8: Kondisi ini terjadi ketika orang yang golput, kemudian mempromosikan alasan dan alternative yang ia pikirkan, namun promosinya tidak berhasil dan system secara keseluruhan tidak terpengaruh. Pada kondisi ini, mungkin saja tidak ada keuntungan yang diperoleh dan dihasilkan oleh tindakan golput barusan.

FS9: Nah, kondisi ini agak lucu juga. Ketika promosi yang disampaikan oleh orang yang golput berhasil, dan system yang diinginkan orang yang golput terbentuk, tapi ternyata system tersebut, malah lebih buruk dari system sebelumnya… Pada kondisi, orang yang golput bisa dibilang melakukan kemungkaran karena merubah system menjadi sesuatu yang lebih buruk. Ini adalah worst case bagi golput.

FS10: Kondisi ini adalah kondisi paling ideal bagi si pemilih maupun si golput (setara dengan FS4). Karena pada kondisi ini, ide perubahan yang diusung oleh orang yang golput ternyata berhasil dan mengubah system menjadi lebih baik.

FS11: Kondisi ini terjadi kalau promosi orang golput tidak berhasil dan bahkan memperburuk system yang telah ada karena promosi yang ia lakukan. Pada kondisi ini, sangat mungkin orang yang golput telah melakukan kemungkaran karena memperburuk system.

FS12: Kondisi ini terjadi kalau promosi orang yang golput tidak berhasil, tapi promosi itu berhasil menyumbangkan ide sehingga membuat system yang ada menjadi lebih baik. Pada kondisi ini, tentu tidak bisa dibilang bahwa orang yang golput telah melakukan kemungkaran bahkan mungkin ia bisa menjadi semacam ‘penyeimbang’ system yang berjalan, dan member masukan-masukan berharga terhadap system tersebut.

Seperti kita lihat, ada kondisi ideal bagi masing-masing pilihan (golput dan voter): yaitu FS4 (bagi voter) dan FS10 (bagi non-voter/golput).

dan ada kondisi yang paling buruk (worst case) bagi masing-masing pilihan (golput dan voter): yaitu FS5 (bagi voter) dan FS9 bagi non-voter.

Pada FS4, voter bisa dibilang melakukan kebaikan yang paling besar karena berhasil merubah sistem (melalui si A) menjadi yang lebih baik, sementara non-voter tidak berperan apa-apa (dan tidak merugikan siapa-siapa)

sebaliknya pada FS10, non-voter yang paling berperan, sementara voter tidak berperan dan merugikan apa-apa.

Nah, pada FS5, voter bisa bilang bahwa mereka telah berusaha, dan menyalahkan non-voter karena telah membiarkan hal ini terjadi. Walaupun tentunya si voter juga bisa disalahkan karena ikut serta (yang bisa saja berarti menyetujui) sistem yang menghasilkan kondisi seperti ini.

Sementara pada FS9, non-voter juga bisa bilang bahwa mereka telah berusaha, dan mungkin menyalahkan voter karena tidak berpartisipasi dalam upaya mensukseskan langkah mereka. Walaupun tentunya si non-voter juga (sangat) bisa disalahkan karena ikut serta dalam upaya yang menghasilkan kondisi seperti ini.

sementara pada FS-FS lainnya, bisa dibilang voter-nonVoter sama-sama (silih-berganti) berperan atau tidak berperan dalam menghasilkan kondisi-kondisi tersebut. Bisa dibilang, kondisi-kondisi yang lain menyeimbangkan posisi voter-nonVoter dalam pertanyaan: “Mana yang lebih mungkar, voter-nonVoter?”

hal lain yang menarik diperhatikan, adalah bahwa kita (sebagai warga) ‘hanya’ memiliki wewenang di decision 1. Karena pada decision-decision selanjutnya, bisa dibilang kita hanya penonton yang bahkan seandainya protes pun (demo) belum tentu didengarkan…😛 Tentu saja akan selalu ada kemungkinan kita ikut dalam proses kontrol setiap decision (jadi anggota KPK, misalnya). Tapi tentu saja upaya itu akan berada di luar konteks pertanyaan: “Memilih atau Golput?”

kesimpulannya,

analisa yang mengatakan bahwa seseorang yang tidak memilih telah melakukan kemungkaran karena membuka peluang terpilihnya orang yang buruk dan merubah sistem menjadi lebih buruk (FS5), menurut saya terlalu simplistik. Karena masih banyak pertimbangan lain (dan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi) pada hasil akhir tindakan kita: “Memilih atau Golput?”

wallahu’alam,

wassalam,

Haekal