Saya mendasarkan skema ini pada:
“Tidak boleh bagi tiga orang berada di mana-pun di bumi ini, kecuali memilih salah seorang di antara mereka itu sebagai pemimpin/amir.” (Musnad Imam Ahmad, jilid II, hal.177)
Dan sejarah pemilihan khalifah Utsman RA:
Ketika Khalifah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu’luah, dan Khalifah masih sempat bertahan dari sakit tikaman Abu Lu’luah, lalu membicarakan pengganti Khalifah dengan para ulil amri itu dan mengajukan calon pengganti khalifah kepada Abdur Rahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zuber bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah. Dan kepada mereka menyerahkan keputusan pemilihan dan pengangkatan Khalifah pengganti dirinya.

Dengan asumsi bahwa pada masa kini, pemilihan 6 orang (atau berapa pun jumlahnya) yang dianggap mewakili masyarakat, kemudian menyerahkan urusan pemilihan kekhalifahan kepada mereka, adalah hal yang sulit (karena banyaknya komponen masyarakat sekarang), maka saya berfikir mungkin kalau kita pilih 6 orang (atau berapa pun jumlahnya) pada tingkatan kepemimpinan terbawah, kemudian menyerahkan pemilihan pemimpin pada tingkat selanjutnya kepada mereka, mungkin cara ini akan lebih mudah dilaksanakan pada realita sekarang…

Baiklah, sekarang penjelasannya:
Proses pemilihan yang saya usulkan adalah sebagai berikut:
Input : Masyarakat
Output : Khalifah/Presiden
Proses :
– Pada tingkatan kepemimpinan terendah (setingkat RT), masyarakat dipersilahkan memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin mereka.
– Setelah pemimpin pada tingkat RT terpilih, para pemimpin (dalam satu wilayah RW) tersebut berkumpul untuk memilih satu pemimpin pada tingkat selanjutnya (setingkat RW).
– Begitu selanjutnya, sampai pada tahap terpilihnya pemimpin pada tingkat gubernur, dimana para pemimpin terpilih akan berembuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah/presiden.
Constraint/batasan:
– Pada setiap tingkatan proses pemilihan, waktu yang disediakan adalah satu minggu (merujuk pada waktu yang disediakan kepada para perwakilan masyarakat untuk memilih Utsman)
– Apabila dalam waktu satu minggu tidak berhasil diperoleh kesepakatan, maka anggota pemilihan akan mendapat denda dan pemilihan pada tingkat mereka di-reset (pada masa Umar – > Utsman, hukumannya adalah dibunuh…)
Justifikasi/alasan pembenaran:
– Dengan cara ini, diharapkan masyarakat akan memilih orang yang paling ahli di antara mereka (pada tingkatan RT), dan pada setiap kenaikan tingkatan kepemimpinan, diharapkan output dari proses tersebut adalah orang yang paling ahli pada setiap lapisan kepemimpinan.
– Waktu keseluruhan proses kira-kira (dari Masyarakat -> Khalifah) adalah 7 minggu (dengan spare waktu kemungkinan ada level yang di-reset, 3 minggu). Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan masa kampanye yang disediakan pada proses pilkada, misalnya (2 bulan).
– Biaya pemilihan diharapkan menjadi lebih murah. Pernyataan ini bisa dilihat dari: pada masa memilih pemimpin (setingkat RT) oleh masyarakat, mungkin masyarakat hanya perlu diberi insentif setingkat kopi dan gorengan😛 untuk menarik minat masyarakat dalam berpartisipasi. Sementara pada setiap tingkatan kepemimpinan, insentif yang diberikan mungkin bisa lebih besar (misalnya, pada tahapan para gubernur memilih presiden di antara mereka, mungkin perlu dijalankan di hotel berbintang (pendapat saya pribadi: gak perlu!)) namun biaya ini bisa lebih murah karena jumlah pemilih semakin mengerucut.
– Sistem ini tidak terlalu ‘asing’ bagi system politik yang dikenal di dunia. Karena system ini mirip dengan ‘representative democracy’ (demokrasi perwakilan). Sehingga kemungkinan tentangan dari otoritas dunia (sebutlah PBB (US)) bisa diminimalisir.